Kritis & Terpercaya
Beli Tema IniIndeks
banner 728x250

Janganlah Saling Menghakimi

banner 120x600
banner 468x60
RD WENS HERIN

Senin, 20 Juni 2022

Raj.17:5-8.15-15a.18;Mat.7:1-5

banner 325x300

Pekan Biasa XII

“Jangan menghakimi, supaya kalian tidak dihakimi” (Mat.7:1)

Manusia cenderung menilai, menghakimi dan memfonis sesamanya. Karena rasa tidak suka, iri hati, rasa benci, atau alasan apapun. Olehnya cenderung pula berpikir negatif, selalu melihat kekurangan,  dari pada mengapresiasi hal baik dan positip.

Maka Yesus dengan tegas mengingatkan, jangan kita saling menghakimi. Sebab kita tidak sempurna. Punya kekurangan dan keterbatasan diri. Yesus bahkan memberi bandingan, ketika kita menilai dan menghakimi siapapun, kita sebenarnya hanya melihat “selumbar” (titik debu kecil) di mata mereka. Sementara kita sendiri tidak lihat, ada “balok” besar di mata kita.

Jika pada diri ada balok, maka sebaiknya berhentilah berlebihan mengoreksi selumbar dalam diri sesama. Ubalah cara pandang. Lebih melihat dan mengapresiasi sisi posotip. Mulailah dengan melihat diri, jujur dan rendah hati menilai kekurangan diri. Sebab, jika sesama diam, tidak berarti dia tak tahu apa-apa tentang kita. Kadang kita over percaya diri dan berlebihan membanggakan diri. Lupa bahwa sesama juga mengenal kita, dengan segala keterbatasan kita.

Ketika kita telanjur menghakimi, maka akan berlaku hukum alam ini, “ukuran yang kalian pakai untuk mengukur akan ditetapkan pada kalian juga. Ketika kita selalu menilai sesama dari sisi negatif, maka kita juga akan dijatuhkan dengan penilaian yang sama juga. Tetapi jika kita rendah hati menghargai dan membesarkan kebaikannya, maka kita akan dihargai dengan cara yang terhormat pula.

Mari dengan jujur melihat diri, sebelum menghakimi sesama. Keluarkan dahulu balok dari mata kita, supaya kita bisa melihat dengan objektif. Barulah membantu mengeluarkan selumbar di mata saudara kita. Mulailah dengan mengubah diri, jika mau mengubah orang lain.

Ingat, kita ada bersama sebagai saudara. Untuk saling menghargai dan membesarkan hati. Kita tidak ditetapkan sebagai hakim. Yang suka menilai, mempersalahkan bahkan menghukum satu sama lain.

Seperti dikatakan Sandy Tan, sebagai saudara, “orang hanya butuh telinga untuk mendengar tanpa menyertakan bibir yang menghakimi”.

Tuhan membarkati. SALVE. ***

banner 325x300

Respon (4)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *