banner 728x250

Robot di Beijing, Suanggi di NTT: Menagih Keberanian Intelektual di Tengah Kepungan Klenik

banner 120x600
banner 468x60

Oleh: Arnoldus Janssen Ledo

Prolog: Ironi di Balik Sebilah Kayu dan Stigma Purba

banner 325x300

Agaknya kita mesti merenung sejenak, melihat betapa gigihnya sebagian dari kita dalam menjaga “warisan” cara berpikir. Di saat media internasional santer memberitakan robot humanoid Unitree yang menampilkan kung fu di Tiongkok akhir Februari 2026, pada awal bulan Maret 2026, sebuah berita dari Kabupaten Alor, NTT justru menunjukkan dedikasi yang tak kalah luar biasa terhadap sebuah mitos lama.

Akun Instagram @ntt.update memposting sebuah berita tentang seorang nenek berusia 86 tahun berinisial MA dianiaya dengan kayu yang dihantamkan langsung ke tubuh rentanya lantaran begitu yakin bahwa tubuh tua itu adalah persemayaman suanggi. Sebuah fragmen yang sangat unik, di mana kemanusiaan dengan sopan dipersilakan mengalah demi memberi prasangka yang belum kunjung usai.

Keresahan ini kerap jadi hidangan pendamping getir saat saya dan rekan-rekan mahasiswa duduk bersama, mencoba memahami ke mana arah nalar kita sedang menuju. Seorang teman pernah bercerita dengan nada jenaka namun menyakitkan tentang ayahnya. Beliau berjuang melawan kanker yang saat itu belum terdiagnosis medis karena keluarga lebih memilih ‘mengamankannya’ dalam ritual doa dan pengobatan alternatif. Logika keluarga meyakini ada campur tangan gaib di balik rasa sakit itu. Kita seakan lupa, bahkan pemimpin agama pun masih membutuhkan dokter—sebuah bukti nyata bahwa iman dan nalar tidak seharusnya berseteru.

Namun, hal paling “menusuk” bukan pada mitos itu sendiri, melainkan pada dinding senioritas yang membentenginya. Ketika mencoba menawarkan setitik nalar medis, teman saya justru dihadiahi kalimat yang sangat ikonik dari keluarganya: “Sekolah jauh-jauh di Yogyakarta hanya supaya lupa budaya? Kamu mau tunjuk ilmu kuliah di sini?”. Di titik ini, kita sadar bahwa pendidikan tinggi seolah-olah menjadi dosa jika ia berani mengusik kenyamanan delusi yang sudah mapan. Kita seolah dipaksa untuk memilih: menjadi anak yang “beradab” dengan membiarkan kebodohan memakan korban, atau menjadi anak yang “lupa budaya” karena mencoba menyelamatkan nyawa dengan  akal sehat.

Suanggi: Diagnosa Termudah bagi Nalar yang Malas

Kasus seperti yang menimpa nenek MA di Alor bukan pertama kali terjadi. Polres Kupang di bulan November 2024  mendapat laporan pria berinisial LB  dibacok hingga tewas karena dituduh suanggi. Pada bulan Mei di tahun yang sama, flores.tribunnews.com memberitakan perusakan rumah AW akibat dituduh suanggi dan penyebab kematian seorang ibu di Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur. Kasus yang sama juga terjadi setahun setelahnya. Mediakupang.pikiran-rakyat.com juga memberitakan pasangan suami istri di Kabupaten Belu yang rumahnya dihancurkan karena dituduh suanggi pada April 2025 kemarin.

Harus kita akui, masyarakat kita memiliki bakat luar biasa dalam menciptakan jalan pintas intelektual. Ketika sebuah kematian datang mengetuk pintu keluarga, atau ketika penyakit kronis mulai menggerogoti raga, kita sering kali merasa terlalu lelah untuk membuka buku medis atau mendengar penjelasan dokter yang rumit. Sebagai gantinya, kita memilih diagnosis yang lebih praktis dan hemat energi: suanggi.

Jalan pintas ini begitu memanjakan ketidaktahuan kita. Alih-alih meratapi kepergian anggota keluarga dengan doa dan refleksi diri, kita justru sibuk menaruh dendam dan menunjuk hidung tetangga sebagai pelaku “santet”. Sangat ironis melihat bagaimana sebuah duka cita bisa dengan cepat menjadi kontes tuduh-menuduh, seolah kematian—yang adalah takdir Tuhan—dianggap sebagai kesalahan teknis yang harus selalu memiliki kambing hitam.

Di titik ini, suanggi bukan lagi kepercayaan budaya, melainkan sebuah bentuk pelarian dari realitas biologis. Kita lebih nyaman hidup dalam delusi bahwa ada kekuatan gaib yang mencelakai kita daripada menerima kenyataan bahwa tubuh manusia memang bisa rapuh dan gagal berfungsi. Kegemaran kita dalam memelihara stigma ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa nalar kolektif kita lebih memilih beristirahat di abad kegelapan, sementara dunia di luar sana sudah berlari kencang menuju masa depan.

Subtitusi Iman: Saat Harapan Mukjizat Menomorduakan Kesembuhan

Selanjutnya, kita masuk ke ruang yang lebih privat namun tak kalah menyesakkan: penyalahgunaan spiritualitas. Fenomena di mana kita secara sukarela menaruh harapan hidup kita pada doa-doa religius sambil menomorduakan jalur medis. Ada sebuah kesombongan tersembunyi ketika kita merasa bahwa doa-doa kita dapat mengabaikan hukum-hukum biologi yang telah Tuhan ciptakan sendiri.

Namun, di sini letak ironi yang pedih. Ketika seorang ayah yang digerogoti kanker secara sukarela dibawa ke pendoa alih-alih ke ruang kemoterapi, kita sedang melakukan perjudian nyawa di atas nama kesalehan. Kita lupa bahwa bahkan seorang uskup pun tetap membutuhkan dokter; sebuah pengingat halus bahwa berobat ke rumah sakit tidak akan mengurangi kadar iman kita sedikit pun. Sayangnya, pilihan sukarela untuk mengabaikan sains sering kali berakhir dengan penyesalan yang terlambat, di mana doa yang seharusnya menguatkan batin justru dijadikan alibi untuk membiarkan tubuh binasa tanpa usaha medis yang memadai.

“Argumentum ad Senioritas”: Budaya Bukan Izin untuk Menolak Nalar

Ironisnya, segala keruwetan logika di atas pada akhirnya membentur sebuah dinding tebal yang menghalangi anak muda seperti saya dan rekan-rekan mahasiswa. Sesuatu yang saya sebut dengan “dinding senioritas”. Saya teringat sesuatu tentang argumentum ad senioritas, salah satu jenis kesalahan berpikir di mana suatu argumen atau klaim dianggap benar, sah, atau unggul hanya karena disuarakan oleh seseorang yang lebih tua. Ini dialami rekan saya, mungkin juga rekan-rekan generasi muda yang lain, ketika mencoba menawarkan sudut pandang medis atau logika dasar, lantas dihadiahi tamparan verbal yang sangat ikonik: “Heh, kamu baru lahir tahu apa? Sekolah jauh tapi lupa budaya sendiri? Kamu mau pamer ilmu kuliah? Sekolah jauh terlalu pintar sampai jadi bodoh dengan budaya sendiri?”. Pierre Bourdieu menggambarkan ini sebagai kekerasan simbolik (symbolic violence) di mana bahasa tidak dipakai untuk mencari kebenaran, tetapi untuk mempertahankan hierarki sosial.

Di titik ini, istilah “budaya” telah mengalami penyempitan makna yang sangat disayangkan. Ia tidak lagi menjadi nilai luhur yang memanusiakan manusia, melainkan menjadi tameng bagi mereka yang enggan mengakui kekeliruan berpikir. Seolah-olah, gelar sarjana atau pendidikan tinggi yang kita tempuh adalah sebuah penghinaan bagi para orang tua, jika pendidikan itu berani mengusik kenyamanan klenik yang sudah berakar. Kita dipaksa untuk percaya bahwa menjadi anak yang “beradab” berarti harus diam melihat nyawa terancam oleh mitos, sementara mencoba menyelamatkan mereka dengan nalar dianggap sebagai tindakan “kurang ajar”.

Epilog: Menagih Keberanian Intelektual

Kita tidak bisa terus-menerus hidup dalam kontradiksi memalukan ini. Kita tidak bisa membanggakan diri sebagai bangsa yang modern jika di saat dunia sedang memprogram robot untuk menari kungfu, kita masih sibuk menghakimi seorang nenek berusia 86 tahun dengan tuduhan suanggi. NTT membutuhkan lebih dari sekadar mantra; kita membutuhkan keberanian untuk mengakui bahwa nalar adalah oksigen bagi peradaban yang bermartabat.

Berhenti berlindung di balik kata “budaya” untuk memaklumi kebodohan yang mematikan. Pendidikan yang kita tempuh justru adalah wujud cinta paling tulus untuk membersihkan budaya kita dari debu-debu delusi. Sebab pada akhirnya, hantu tidak pernah membunuh kita, melainkan ketidaktahuan dan kerasnya hati dalam menolak nalar yang perlahan-lahan sedang menghabisi kita. (*)

Penulis: Arnoldus Janssen Ledo Peurapeq adalah pemuda asal Kabupaten Lembata, NTT, yang kini menempuh pendidikan Semester 6 di Program Studi Sastra Inggris, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Menaruh minat pada kepenulisan serta analisis wacana kritis terhadap dinamika sosial dan kelestarian lingkungan sejak duduk di bangku Seminari Menengah San Dominggo Hokeng. Dia juga aktif sebagai jurnalis dan menjadi ketua Unit Kegiatan Program Studi (UKPS) INTEGRITY yang bergerak di bidang jurnalisme dan kepenulisan bahasa Inggris untuk jurusan Sastra Inggris Universitas Sanata Dharma. Dapat dihubungi melalui arnoldusjnssn07@gmail.com.

banner 325x300

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *