Sore tiba tidak seperti biasanya. Udara terasa lebih sejuk, sementara tanah di halaman paroki St. Fransiskus Asisi Lamahora masih basah oleh hujan yang belum sepenuhnya reda. Dari jalan menuju aula paroki, anak-anak SMP dari beberapa sekolah di Lembata telah berdatangan bersama guru pendamping. Ada yang membawa busur; berpakaian adat, sedang yang lain lagi datang dengan kepala yang mungkin telah mengendapkan syair lagu dan notasi musik. Semua mereka tentu ingin menang setelah latihan berhari-hari. Pada 5 Maret 2026, mereka hendak menepati kesepakatan, tampil dalam lomba seni antar-SMP. Masing-masing telah diberi peran, tahu apa yang harus dijaga dan apa yang mesti ditaklukan. Tepat pukul 17.00 WITA, mereka mulai berkompetisi.
Sebagaimana sebuah perlombaan, lomba paduan suara, band, dan tari kreasi yang diinisasi panitia live in dan promosi Seminari Menengah San Domingo Hokeng (SESADO) berjalan dalam jalur kompetisi yang tertata. Registrasi untuk memastikan keikutsertaan peserta berlangsung di pintu masuk aula. Selanjutnya, lotre diundi untuk menentukan urutan tampil. Para juri dipersilahkan menepati tempatnya. Panggung proscenium, dalam versi sederhana (aula serbaguna) dijadikan sebagai sentrum pertunjukkan. Tidak ada tata cahaya yang lebih selain lampu-lampu biasa, begitupun dengan tata suara menggunakan peralatan standar sebagaimana lazim dalam banyak pertunjukkan di Lembata. Lomba kemudian dimulai dengan sambutan RD. Sandro Lozor, Kepala SMAS SESADO, dan dibuka secara resmi oleh Pastor Paroki Lamahora, RP. Asterius Sangu Ate, C.Ss.R.
Dalam sambutannya, RD. Sandro menyinggung lomba sebagai cara seminari mengabarkan diri kepada publik. Formasi di seminari adalah tanggung jawab bersama. Seminari disebutnya sebagai jantung keuskupan, tempat di mana benih panggilan dipelihara dan disiapkan. Karena itu, para siswa yang terpanggil menjadi imam perlu diperkenalkan dengan kehidupan seminari. Lomba seni menjadi pintu kecil untuk membuka percakapan itu.
Sementara itu, sambutan RP. Aster, C.Ss.R bisa dibaca sebagai alarm, sebab ada sisi lain dari sebuah kompetisi. Lomba seringkali memanggil protes, bahkan membawa perdebatan ke pusaran konflik kecil ketika hasil tidak sesuai harapan. Namun bagi Pater Aster C.Ss.R, lomba harus dipahami sebagai ikhtiar untuk membangun persaudaraan dan persahabatan. Kompetisi tidak perlu memutus relasi, mesti mempertemukan orang dalam kegembiraan bersama. Selain itu melalui lomba, para siswa SMP mendapat ruang untuk menyalurkan bakat dan minat.
Setidaknya dari dua sambutan ini, maka perlombaan malam itu hendak disetir pada aksentuasi makna yang lebih dalam daripada sekadar perebutan juara. Catatan sederhana ini merupakan upaya membaca kembali peristiwa tersebut melalui empat sisi. Pertama, panggung seni menjadi jeda dari dunia sekolah yang sering didominasi angka; kedua, kompetisi adalah intervensi sejenak terhadap gawai; ketiga bagaimana kompetisi dengan segala perasaannya (kalah dan menang) dapat menjadi ruang belajar bagi kedewasaan; dan keempat, sekiranya seni memberi ruang bagi pendidikan manusia yang lebih utuh.
Jeda Sebentar Dari Angka
Ada sesuatu yang terasa berbeda ketika panggung seni menjadi milik para siswa. Di ruang kelas, mereka tumbuh dengan dikotomi, sukar-mudah, pintar-bodoh, benar dan salah. Kategori-kategori muncul seiring ukuran keberhasilan angka dan peringkat. Perlahan-lahan, para siswa mematok standar dan harga diri. Sebagian mungkin merasa cukup percaya diri dan yang lain meragukan dirinya sendiri. Angka menjelma dari alat ukur menjadi cermin dalam memandang diri.
Memang benar bahwa lomba juga berakhir dengan angka dan juara. Namun capaian tidak mendahului proses; datang di akhir. Yang lebih dulu adalah latihan panjang, keberanian berdiri di panggung, dan kegembiraan dalam penampilan. Anak-anak memiliki cara berbeda untuk mengekspresikan diri. Ada yang menyanyikan lagu dengan harmoni yang rapi, memainkan alat musik dengan energi dan mampu menceritakan tradisi lewat tubuhnya.
Perubahan kecil ini sebenarnya menyimpan makna dalam cara orang memandang pendidikan. Dunia sekolah seringkali terlalu cepat mereduksi proses belajar menjadi angka. Nilai ujian menjadi ukuran tunggal yang menentukan keberhasilan. Kecerdesan sering dibayangkan dalam kemampuan menjawab soal dengan tepat. Apa yang tidak mudah diukur kadang terpental dari perhatian. Padahal, kehidupan manusia tidak pernah sesederhana lembar jawaban pilihan ganda.
Manusia memang memiliki kecerdesaan yang majemuk. Selain kecerdesaan logis dan linguistik, ada kecerdasaan musikal musikal, kinestetik, interpersonal, dan berbagai bentuk kecerdesaan lain yang tidak selalu muncul dalam ujian tertulis. Jika demikian, maka pendidikan yang hanya mengukur satu jenis sebenarnya sedang menyempitkan potensi manusia. Banyak bakat yang akhirnya tidak pernah menemukan ruangnya. Anak-anak tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka “tidak pintar” hanya karena kemampuannya tidak berada dalam ketersedian ukuran.
Maka panggung seni malam itu hadir sebagai semacam distorsi kecil terhadap konstruksi pendidikan yang mapan. Lomba seni yang disediakan SESADO menjadi ruang kecil untuk memulihkan kemungkinan lain. Di atas panggung, anak tidak sedang menerima isi kepala dari luar. Mereka sedang mengolah pengalaman, menyusun ekspresi, dan mengambil resiko untuk tampil di hadapan orang lain. Ada ketegangan, keberanian dan kemungkinan gagal. Tetapi justru dalam resiko itulah pendidikan menjadi pengalaman yang hidup. Anak-anak menemukan cara baru untuk memahami diri mereka sendiri. Mereka belajar bahwa kreativitas tidak pernah lahir dari kepastian yang aman. Dan pada akhirnya, panggung seni menghadirkan dimensi praksis dalam pendidikan, menjadi ruang belajar yang berbeda. Mereka mengetahui sesuatu sekaligus belajar menjadi seseorang.
Sejenak Menginterupsi Notifikasi
Semua mereka yang tampil malam itu adalah anak-anak yang akrab dengan gawai. Layar kecil itu hampir selalu berada dalam jangkauan tangan. Mereka bertukar pesan, mencari hiburan, dan sering membangun gambaran tentang dirinya sendiri. Dunia hari ini membawa ritme hidup yang serba cepat dan serba singkat. Perhatian mudah berpindah dari satu notifikasi ke notofikasi lain. Dalam pusaran arus yang demikian deras, kehadiran menjadi tipis dan terpecah. Karenanya, malam lomba seni itu terasa seperti jeda sejenak. Untuk beberapa jam, perhatian anak-anak berpindah dari layar ke panggung.
Lebih jauh lagi, lomba ini secara tidak langsung juga melawan hingar bingar media sosial yang sulit dijegal. Dunia digital membuat manusia selalu bersama dalam jaringan, tetapi sepi dalam relasi nyata. Anak-anak dapat memiliki ratusan teman di media sosial, tetapi jarang mengalami percakapan yang sungguh hadir. Layar memberi ilusi kedekatan, sementara tubuh dan suara justru jarang bertemu. Memang ada paradoks kehidupan modern, di mana orang semakin terhubung secara teknologi, tetapi rapuh dalam kedekatan sosial.
Generasi muda sekarang memang terpapar dalam tekanan psikologis akibat budaya perbandingan di media sosial. Identitas sering dibangun dari pengakuan dan validasi, jumlah suka, komentar, atau pengikut. Pengakuan seperti itu mudah datang tapi segera hilang. Akibatnya, banyak remaja menggantungkan harga diri pada perhatian yang sementara. Maka, panggung seni menghadirkan pengalaman yang berbeda sama sekali. Pengakuan tidak datang dari algoritma, melainkan dari keberanian tampil dan usaha yang terlihat. Anak-anak belajar bahwa nilai diri ditentukan oleh proses dan keberanian.
Dalam ruang pertunjukan, ada pengalaman yang tidak dapat digantikan oleh teknologi. Ketika seorang siswa berdiri di panggung, ia membawa seluruh dirinya: suara, tubuh, rasa gugup bersama seluruh harapannnya. Tidak ada filter yang bisa menyembunyikan kesalahan kecil. Tidak ada tombol yang mengedit kekeliruan. Semua terjadi dalam waktu yang sama dengan napas penonton yang menyaksikan. Namun justru inilah yang mengkonkritkan pengalaman kemanusiaan. Anak-anak belajar menerima ketidaksempurnaan sebagai bagian dari proses tampil. Mereka belajar bahwa keberanian sering lahir dari situasi yang tidak sepenuhnya aman.
Karena itu, lomba seni di Lamahora bukanlah kegiatan dalam kalender live-in dan promosi SESADO. Anak-anak berhenti sejenak dari arus notifikasi yang tak pernah selesai. Mereka berlatih hadir, melihat, dan dilihat secara langsung oleh yang lain. Dalam pengalaman itu, mereka menjadi peserta lomba sekaligus subjek yang sedang menemukan suara dan keberaniannya sendiri. Seni memberi mereka kesempatan untuk berdiri di hadapan sesama manusia tanpa perantara layar.
Belajar Dewasa dari Lomba
Selalu dalam setiap lomba ada bayangan di dalamnya. Ketika hasil diumumkan dan tidak semua nama disebut sebagai juara, suasana bisa berubah. Ada wajah yang murung, ada bisik-bisik keberatan, bahkan protes terdengar keras ketimbang tepuk tangan. Orang dihadapkan pada mentalitas kompetisi yang belum sepenuhnya dewasa. Lomba sebagai ruang pembinaan tergelincir ke dalam arena harga diri.
Kita hidup dalam budaya yang memuja kemenangan. Sejak kecil anak-anak diajar untuk menjadi nomor satu, jarang menerima posisi di bawahnya dengan lapang. Media sosial memperparahnya dengan logika perbandingan tanpa henti. Pengakuan diukur dari ranking dan jumlah respons. Kekalahan terasa seperti kehilangan nilai diri. Padahal, nilai manusia tidak pernah identik dengan piala.
Ada kecemasan status dalam masyarakat modern. Orang cenderung menyamakan keberhasilan dengan pengakuan publik. Ketika tidak mendapatkannya, mereka merasa gagal sebagai pribadi. Mentalitas ini mudah merasuki lomba seni. Protes atas hasil penilaian menyasar bukan hanya pada hal teknis, tetapi soal harga diri yang terusik.
Di sinilah pendidikan karakter mendapat ujian. Lomba seharusnya menjadi ruang belajar menerima keterbatasan dan menghargai proses. Anak-anak perlu dibimbing untuk memahami bahwa nilai juri adalah bagian dari perspektif, bukan vonis atas martabat. Kemenangan cuma peristiwa, kedewasaan adalah perjalanan. Tanpa refleksi ini, kompetisi hanya melahirkan kekecewaan kolektif. Lomba di Lamahora mestinya mendidik yang kedua. Kekalahan menjadi bahan bakar belajar, bukan alasan untuk saling menyalahkan.
Protes yang muncul sebenarnya bisa dibaca sebagai gejala. Ia menunjukkan betapa kuatnya dorongan untuk diakui. Pendamping dan guru bukan meredam emosi semata, melainkan ikut mengolahnya. Anak-anak perlu diajak menafsir pengalaman itu. Mengapa kalah terasa menyakitkan? Apa yang bisa dipelajari dari prosesnya? Pertanyaan-pertanyaan ini lebih penting daripada sekadar juara.
Maka, lomba seni akan mencapai makna terdalamnya ketika panggung tidak hanya menghasilkan pemenang, tetapi manusia yang matang. Ketika tepuk tangan tidak menjadi candu, kekalahan tidak mendatangkan luka. Anak-anak pulang bukan hanya membawa sertifikat, tetapi kesadaran bahwa seluruh proses telah memperkaya mereka. Di situlah estetika bertemu etika.
Menjadi Sekolah Pelayanan
Lomba seni di Lamahora tidak hanya menjadi pengalaman bagi para siswa yang tampil di atas panggung. Kompetisi tersebut menjadi pengalaman bagi para seminaris sebagai penyelenggara. Mereka menyiapkan panggung, mengatur urutan tampil, berkoordinasi dengan juri, dan memastikan seluruh kegiatan berjalan dengan baik. Dalam kesibukan itu, mereka belajar bahwa pelayanan seringkali berlangsung dalam kerja yang sederhana. Tidak selalu terlihat, tetapi menentukan jalannya sebuah peristiwa. Panggung seni malam menjadi ruang belajar yang hidup bagi seminaris.
Bagi para seminaris, kegiatan seperti ini menghadirkan bentuk latihan pastoral yang konkret. Mereka tidak hanya belajar tentang Gereja dari buku atau ruang kelas. Mereka berjumpa langsung dengan anak-anak, guru, dan umat yang datang memberi dukungan. Dari situ muncul pengalaman bahwa Gereja sesungguhnya hidup dalam relasi sehari-hari. Pelayanan tidak selalu berupa khotbah atau liturgi; hadir juga dalam kerja sama yang menopang kebersamaan.
Mengelola sebuah lomba seni juga menuntut kemampuan mengatur diri dan bekerja dalam tim. Para seminaris belajar merancang kegiatan, membagi tugas, dan menghadapi berbagai situasi yang tak selalu bisa diprediksi. Kadang ada perubahan jadwal, kesalahan teknis, atau ketegangan kecil yang harus diselesaikan dengan bijak. Dalam pengalaman seperti itu, mereka dilatih untuk tetap tenang dan mencari jalan keluar bersama. Pelayanan menjadi sekolah kesabaran sekaligus kedewasaan.
Para seminaris juga belajar mendengarkan. Mereka mendengar harapan para peserta, masukan dari guru pendamping, dan tanggapan umat yang hadir. Mendengar menjadi bagian penting dari kepemimpinan yang melayani. Dari situ tumbuh kesadaran bahwa pelayanan Gereja tidak berjalan satu arah. Ia selalu dibangun melalui dialog dengan umat yang dilayani.
Di sisi lain, perjumpaan dengan para siswa membuka ruang refleksi tentang panggilan hidup. Anak-anak yang tampil dengan penuh semangat memperlihatkan bahwa kaum muda memiliki energi dan harapan yang besar. Melihat mereka bernyanyi, memainkan musik, dan menari dengan percaya diri semestinya memberi bekas. Dalam pengalaman itu, mereka menyadari bahwa pelayanan di masa depan akan selalu berhadapan dengan generasi muda yang dinamis.
Panggung seni malam itu akhirnya menjadi ruang perjumpaan yang melampaui kompetisi. Para siswa belajar mengekspresikan diri, sementara para seminaris belajar melayani dengan cara yang nyata. Umat yang hadir pun merasakan kegembiraan melihat bakat-bakat muda berkembang. Semua pihak mengambil bagian dalam pengalaman yang sama. Seni mempertemukan mereka dalam suasana yang hangat dan penuh harapan.
Maka, kegiatan di Lamahora sungguh lebih dari sekadar lomba. Ia menjadi ruang di mana kreativitas, persaudaraan, dan panggilan hidup saling berjumpa. Di panggung yang sederhana itu, anak-anak menemukan keberanian, sementara para seminaris belajar melayani dengan rendah hati. Di tengah nyanyian, musik, dan gerak tari, tersimpan proses pembelajaran yang tidak selalu terlihat. Barangkali itulah makna terdalam dari peristiwa lomba. Seni menjadi jalan kecil yang mempertemukan manusia dengan dirinya, dengan sesamanya, dan dengan panggilannya. (*)






















Luar biasa mendalam
Mantap