banner 728x250

Ranti Tedemaking Baca Puisi ‘Yang Pergi Tapi Abadi’ di Acara Haul Satu Tahun Kepergian EYS

banner 120x600
banner 468x60

Aksinews.id/Lewoleba – Siswi SMAN Ile Ape, Ratni Tedemaking membacakan puisi ‘Yang Pergi Tapi Abadi’ karya Frater Rintho Jaga dan Yoman Making pada acara haul satu tahun kepergian Eliaser Yentji Sunur (EYS), Jumat (22/7/2022), di Kuma Resort. Ratna mampu menghipnotis para tamu yang hadir.

Acara haul yang digelar istri mendiang almarhum Eliaser Yentji Sunur, Yuni Damayanti, SE tak hanya dihadiri para anggota keluarga Sunur dan Kwertayasa. Tampak hadir pula Penjabat Bupati Lembata, Marianus Jawa, Kapolres Lembata, AKBP Dwi Handono Prasanto, Sekda Paskalis Ola Tapobali, sejumlah kepala dinas/badan lingkup Pemkab Lembata, Deken Lembata, RD Philipus Sinyo da Gomez, serta para sahabat almarhum Yentji Sunur.

banner 325x300
Nyekar.

Romo Sinyo da Gomez didapuk menyampaikan testimoni soal persahabatannya dengan Yentji Sunur. Dikatakan, ia sudah mengenal almarhum Yentji Sunur jauh sebelum menjabat bupati Lembata. “Kami sama-sama pemain sepakbola. Saya dan almarhum pernah sama-sama memperkuat kesebelasan Omesuri, saat saya frater TOP (tahun orientasi pastoral) di Paroki Hoelea, Kedang,” ungkapnya.

Romo Sinyo juga mengungkapkan berbagai hal positif yang dikembangkan almarhum EYS saat memimpin Lembata. Sebagai sahabat, dia mengaku selalu dihubungi EYS untuk membicarakan masalah-masalah hubungan antar umat beragama. “Ini yang patut kita contoh, bagaimana membangun komunikasi yang baik antar pemimpin agama dengan pemerintah,” ungkap Romo Deken.

Pada acara haul pertama ini, EYS didoakan secara Islam. Bahkan, seorang ustad diberi kesempatan menyampaikan ceramah berkaitan dengan haul EYS.

Yuni Damayanti yang diberi kesempatan menyapa para hadirin sempat membacakan sebuah puisi yang ditulis Haji Nasrullah Krisnam dari kota gudeg Yogyakarta khusus untuk haul satu tahun kepergian EYS. Suaranya sempat terbata-bata karena larut dalam kesedihan ditinggal suami untuk selamanya.

Suasana aula Kuma Resort tampak sepi, saat Ranti Tedemaking asal Ohe, Desa Kolontobo, Kecamatan Ile Ape, membacakan puisi. Aktivis komunitas COPA (Comunio A Pago/Latin yang berarti Komunitas dari Kampung) tampil santai membacakan puisi. Berikut petikan lengkap puisi yang dibacakan Ranti Tedemaking :

Kata Pak Sapardi, yang fana itu waktu

Sedangkan manusia kekal

Tubuh kita mati dalam tanah

Jiwa kita bergema dalam keabadian

Ingatan adalah pintu masuk rindu untuk bertemu

Satu lagi…

Hambur luka di bumi Lewotana

Putra ina Lepan Batan telah merdeka

Duka di ujung derita

Sembuh di ujung sengsara

Sepertiga dari pertanyaan mungkin selesai

Seperti angin, namun tak ingin melambaikan sayonara

Untukmu yang kini telah tiada

Selamat merdeka

Puisi ini mewakili seluruh kepunyaanmu

Dari moyangmu

Bapakmu

Ibumu

Anakmu

Bahkan, seluruh rakyatmu

Izinkan kami mengulangi kisah

Menyampaikan rindu di ujung cerita

Tentangmu yang tak pernah usai

Tubuhmu yang kini abadi di alam sana

Amo…

Amo yang dekap di peluk Sang Khalik

Amo yang mati, walau tak pergi

Ini kami…

Kami berontak disamping jalan kebijakanmu

Kami yang melawan di teduh nyaman pangkuanmu

Kami tak tahu,

kami tak tahu

seperti dedaunan kering berguguran

di musim, entah melepas rasa

di pelataran kursi yang belum usai

seperti helai-helai waktu yang patah dari udara tanpa dekap

Amo…

Seperti perjuangan yang berjalan

dengan nanah bercucur darah

Kami menghitung abjad-abjad ajaib

di waktu luka yang mungkin saja hilang

Engkau pergi meninggalkan serpihan kenangan yang belum selesai

Menghapus jejak-jejak suara yang belum menang

Adakah engkau sertainya?

Belum selesai, tidak mati

Engkau bagi kami, adalah abadi

Pergimu bukan berarti mati

Hilang bukan berarti selesai

Dua waktu di tahta kursi

Akankah cintamu tegar merestui

Merangkat, kami merangkak

Kemarin kami menyalahkan hari ini,

Hari ini kami berantakan

Tengadah

Engkau api dari sujud luka darah tunggu

Napas dari lumbung dada pejuang

Bekas pijakan kaki para pekerja

Selamat pisah…

Ini rakyatmu menghaturkan maaf, paling maaf

Ampun segala ampun

Barangkali tengadah mulut paling caci

Adalah luka kami yang tersisa

Tentang kau, teduhmu adalah hati.

Seusai mengikuti acara haul, Ranti dan teman-temannya melakukan kunjungan ke makam Yentji Sunur di kawasan Kuma Resort. (AN-01)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *