Di tengah kesibukannya melaksanakan tugas pastoral di kawasan Amazon, Brasil, Amerika Latin, Padre Selo Lamatapo, SVD masih menyempatkan diri menulis catatan atas karya Fince Bataona, Lamauri – sebuah Novel. Novel yang diterbitkan oleh Penerbit Ikan Paus ini merupakan novel kedua Fince Bataona, setelah novel pertamanya: Lamafa.
Berikut petikan lengkap catatan Padre Selo dari Amazon, Brasil:

Selasa sampai Jumat yang lalu, saya kunjungi stasi-stasi di pedalaman untuk rayakan misa bersama mereka. Pedalaman di sini jauh dari kebisingan, penuh dengan keheningan.
Karena itu, saya gunakan kesempatan untuk baca karya keduamu, Lamauri, istri dari Lamafa, karya pertamamu.
“Ada Lamafa, maka harus ada Lamauri supaya arah pledang bisa dikendalikan, ( _Lamauri , 124).”
Komentar pembuka saya, akhirnya, Lamafa tak ‘melaut’ sendirian. Ada Lamauri yang kini menemaninya dalam doa, cinta, dan kesetiaan mengarungi lautan luas.
Selanjutnya, catatan pendek di bawah ini adalah gambaran umum pembacaan saya atas novel Lamauri:
‘Arsip’ Budaya
Novel ini dibagi dalam empat bagian cerita. Bagian satu, dua, dan tiga, masing-masing dengan judul Pnete Alep, Matagapu, Pano Leo adalah ‘pembuka cerita’ yang mengenalkan tokoh-tokoh cerita, situasi, dan kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa.

Fince Bataona menggunakan alur campuran (maju dan mundur) untuk mengisahkan peristiwa-peristiwa dalam novel ini. Ia membuka cerita dengan kebiasaan orang-orang kampung berkabung atas meninggalnya Ema Lisa, salah satu tokoh dalam novel ini. Fince Bataona melukiskan pengalaman duka tersebut dan menarasikan ritual-ritual perkabungan, juga menyertakan kebiasaan-kebiasaan umum para tokoh dalam di lingkungan hidup mereka, (dalam hal ini, Lamalera sebagai latar tempat).
Secara umum, bagian ini menekankan keharmonisan dalam hidup bersama, menampilkan keterikatan yang kuat dengan tradisi dan budaya, dan sekaligus memberi pesan yang kuat kepada pembaca untuk boleh membayangkan apa jadinya bila tradisi dan budaya itu mulai diabaikan, dilupakan, bahkan (mungkin) dihapus karena perkembangan zaman.
Saya terbawa dalam peristiwa-peristiwa yang dilukiskan dengan bahasa sederhana, tidak ‘berbunga-bunga’; dengan bahasa keseharian yang dekat dan padat isinya: keseharian hidup tokoh utama Ina sebagai penenun, karakter tokoh-tokoh perempuan yang ditampilkan apa adanya —baik maupun buruknya—sebagai orang kampung (saling menolong, suka omong orang lain, kerja keras, tanggung jawab, dan sebagainya).
Semua karakter itu dilukiskan dengan bahasa apa adanya. Sehingga usai membaca tiga bagian awal ini, satu hal yang melekat di kepala saya adalah Fince Bataona sedang ‘mengarsipkan’ tradisi, budaya Lamalera untuk generasi-generasi penerus, khususnya orang-orang Lamalera dan di sekitarnya.
Saya tiba-tiba teringat Thomas Berry, Sejarawan dari Amerika. Dia pernah menyinggung tentang ‘Modifikasi Budaya’ dalam pandangannya tentang ekologi: relasi antara alam dan manusia.
Bahwa, manusia modern kerap memodifikasi budaya untuk kepentingan pribadi. Sebagai misal, dalam budaya-budaya tertentu, ada pandangan bahwa alam adalah saudara yang harus dijaga, dilestarikan.
Namun, dalam perkembangan selanjutnya, manusia modern memodifikasi budaya dengan mengubah pandangan atau pola pikir dari alam sebagai saudara menjadi alam sebagai objek yang harus ‘dikuras’.
Saya berpikir, Fince Bataona tidak ingin warisan leluhur itu dimodifikasi sesuai keinginan, apa lagi keinginan yang merugikan. Karena itu, melalui Lamauri , ia menulis apa adanya tentang tradisi dan budaya di Lamalera: ritual kematian, ritual sebelum penangkapan ikan, ritual masuk minta (pernikahan adat), dan aneka ritual lainnya.
Bagi saya, bila kelak ada upaya ‘memodifikasi budaya’ (ke arah yang merugikan), novel Lamauri dapat dibaca kembali untuk membalikkan pembelokan itu. Novel ini akan menjadi pengingat setiap orang untuk kembali ke ‘jalur’.
Kembali ke Akar, Kembali ke Rahim
Sebagai lanjutan dari tiga bagian awal novel ini yang menekankan tradisi dan budaya sebagai unsur yang melekat kuat pada setiap tokoh, pada bagian keempat dari novel ini, Fince Bataona memadukan kisah masa lalu dan masa kini tokoh utama cerita. Bagian ini juga menjadi bagian akhir.
Fince Bataona mengisahkan Ina (tokoh utama cerita) sebagai perempuan kampung yang melanjutkan pendidikannya (kuliah) di Kupang. Ia terlahir dari keluarga sederhana, ayahnya seorang yang sehari-hari bekerja pembuat sampan untuk para pelaut, ibunya adalah seorang penenun yang berwatak keras dan berkarakter kuat.
Sebaik apapun ia dibentuk dalam keluarganya di kampung, Ina toh pada akhirnya jatuh dalam pelukan lelaki kota bernama Adrian. Celakanya, lelaki itu memilih menghilang setelah menyuruhnya menggugurkan anak dalam kandungan itu.
Ina kemudian harus berhenti kuliah, dan ia harus kembali ke kampung untuk memulai hidup baru dan siap menanggung segala bentuk ‘sanksi’ sosial. Ia memilih membesarkan anak itu dengan tetap menanggung segala situasi yang ada di kampung itu.
Sampai pada akhirnya, sahabat lamanya, Ama, berani menerima kenyataan hidup Ina, dan ingin menikahinya. Meski pada akhirnya keduanya menikah, bagi saya, tegangan konflik (antara ibu Ama dengan kenyataan hidup Ina sebagai janda, antara keluarga besar Ina dan Ama) yang diciptakan Fince Bataona di klimaks cerita ini amat menarik.
Bayangkan, seorang perempuan (Ina) yang tidak selesai kuliah, pulang karena hamil, laki-laki tidak bertanggung jawab, lalu tiba-tiba atas nama cinta lama, rasa yang pernah tumbuh, Ama ingin menikahinya dan hidup semati dengannya? Apa kata masyarakat? Bagaimana Ina dan menghadapi semua itu?
Saya menyelesaikan kisah ini, dan membayangkan Ama adalah tokoh jelmaan dari jawaban Yesus atas pertanyaan: “Berapa kali saya harus mengampuni, apakah tujuh kali?
Bukan tujuh kali, melainkan tujuh puluh kali tujuh kali.”
Pengampunan itu berulang-ulang, sebanyak-banyaknya sebagaiman manusia jatuh berulangkali dalam pencobaan dan dosa. Berulangkali agar manusia tahu, bahwa hidup itu berharga. Ama (mungkin) melanjutkan pesan Yesus itu.
Terlepas dari itu semua, saya ingin membaca kisah itu lebih jauh dalam relasi antara kampung (Ina) dan kota (Adrian).
Ina adalah simbol kampung penuh tradisi, budaya. Adrian adalah kota, gambaran perkembangan dunia, penuh manipulasi, tipu-daya, tak bertanggung jawab, simbol keserakahan dan keegoisan, (bila kita kaitkan dengan bagian awal novel maka ia dinamakan manusia modern yang memodifikasi budaya untuk kepentingan pribadi, kesenangan pribadi, lalu lari dan tak bertanggung jawab atas kenyataan sesudahnya).
Keputusan Fince Bataona untuk menetapkan tokoh utama Ina pulang ke kampung adalah sebuah seruan untuk kembali ke akar, kembali ke rahim; sebuah seruan untuk tidak memanipulasi budaya, tidak memodifikasi budaya hanya untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu (kepentingan yang merugikan).
Keputusan Fince Bataona untuk melukiskan tokoh Ama menerima Ina apa adanya adalah sebuah panggilan untuk menerima, bukan menolak; sebuah seruan untuk berjalan bersama-sama, bukan ‘merusakkan’ lalu pergi tanpa rasa tanggung jawab.
Pada akhirnya, novel ini menyimpan banyak pesan kemanusiaan, dan dapat dimaknai lebih dalam. (*)
Alenquer-Amazon, Maret 2026














