Oleh: Anselmus DW Atasoge
STIPAR Ende – Alumnus Seminari San Dominggo Hokeng
Artikel “Lebih Dari Sekadar Lomba (Catatan dari Panggung Lomba Lamahora)” yang ditulis oleh RD Inno Koten menawarkan sebuah refleksi mendalam tentang makna kompetisi seni di tingkat sekolah menengah. Penulis menggambarkan peristiwa tersebut sebagai ruang pedagogis yang kompleks. Tulisan ini menyoroti empat dimensi utama: pendidikan yang lepas dari dominasi angka, interupsi terhadap budaya digital, pembelajaran kedewasaan melalui kekalahan, dan pendidikan pelayanan.
Untuk mempertegas landasan gagasan tersebut, catatan sisipan ini menghadirkan perspektif teoretis yang bertujuan untuk memvalidasi observasi RD. Inno Koten dengan data empiris dan kerangka filosofis yang telah teruji dalam diskursus pendidikan dan psikologi global.
Pertama, Dekonstruksi Dominasi Angka Perspektif Howard Gardner. RD. Inno Koten menyoroti bahwa dunia sekolah sering kali mereduksi keberhasilan manusia menjadi sekadar “angka” dan peringkat. Ia berargumen bahwa panggung seni memungkinkan anak-anak mengekspresikan potensi yang tidak terukur oleh ujian tertulis.
Gagasan ini selaras secara fundamental dengan teori ‘Multiple Intelligences’ (Kecerdasan Majemuk) yang digagas oleh Howard Gardner, psikolog perkembangan dari Universitas Harvard, Amerika Serikat (Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences, 2011). Gardner mengkritik paradigma pendidikan tradisional yang terlalu berat pada kecerdasan linguistik dan logis-matematis. Menurutnya, manusia memiliki setidaknya delapan jenis kecerdasan, termasuk musikal, kinestetik, interpersonal, dan intrapersonal.
Dalam konteks lomba di Lamahora, ketika siswa tampil menari atau bermusik, mereka sedang mengaktifkan kecerdasan musikal dan kinestetik yang sering terabaikan di kelas reguler. Gardner menegaskan bahwa sekolah yang baik adalah sekolah yang mempersonalisasi pendidikan dan mengenali berbagai profil kecerdasan siswa. Jika pendidikan hanya berfokus pada nilai akademik (angka), maka sekolah tersebut secara tidak sedang “memiskinkan” siswa yang memiliki keunggulan di bidang seni.
Kedua, Kehadiran di Era Digital Perspektif Sherry Turkle. Bagian kedua dari tulisan RD. Inno menyoroti fenomena “interupsi notifikasi”. Ia menggambarkan bagaimana lomba seni memaksa anak-anak berpindah dari layar gawai ke kehadiran fisik di panggung. Ini adalah kritik terhadap budaya digital yang membuat manusia terhubung secara virtual namun terisolasi secara emosional.
Pemikiran ini dikuatkan oleh riset Sherry Turkle, profesor dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), yang specializes dalam studi interaksi manusia dan teknologi. Dalam karya seminalnya, ‘Alone Together: Why We Expect More from Technology and Less from Each Other, 2011’, Turkle memperingatkan adanya “flight from conversation” (pelarian dari percakapan nyata). Ia berargumen bahwa teknologi digital menawarkan ilusi kedekatan tanpa tuntutan persahabatan yang sesungguhnya.
Lomba seni di Lamahora, menurut kacamata Turkle, berfungsi sebagai ruang ‘re-humanisasi’. Ketika siswa berdiri di panggung tanpa filter digital, mereka mengalami kerentanan (vulnerability) yang nyata. Mereka belajar membaca bahasa tubuh, nada suara, dan emosi penonton secara langsung. Ini adalah antidotum terhadap apa yang disebut Turkle sebagai kesepian dalam keramaian digital. Pengalaman “hadir sepenuhnya” (presence) yang terjadi selama lomba adalah keterampilan sosial yang kritis di abad ke-21.
Ketiga, Pendidikan Karakter dan Kedewasaan Perspektif Ki Hajar Dewantara. Dimensi ketiga yang diangkat RD. Inno adalah tentang belajar menerima kekalahan dan kedewasaan. Ia menekankan bahwa kemenangan adalah peristiwa, sedangkan kedewasaan adalah perjalanan. Di titik ini, protes terhadap hasil lomba dianggap sebagai gejala belum matangnya karakter dalam menghadapi kompetisi.
Filosofi ini memiliki akar yang kuat dalam pemikiran Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional Indonesia (Bagian Pertama: Pendidikan. Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, 1961). Konsep pendidikan Ki Hajar terarah pada tema ‘menuntun’ segala kodrat yang ada pada anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Ki Hajar menekankan pentingnya pendidikan budi pekerti, di mana keseimbangan antara ‘Cipta, Rasa, dan Karsa’ harus terjaga.
Dalam konteks lomba, Ki Hajar akan memandang kekalahan bukan sebagai kegagalan, melainkan sebagai momen ‘tapa brata’ (latihan ketahanan mental). Pendidikan karakter menurut Ki Hajar bertujuan membentuk manusia yang merdeka, yaitu manusia yang tidak bergantung pada pengakuan orang lain (validasi eksternal) untuk menentukan harga dirinya. Ketika siswa belajar menerima hasil juri tanpa kehilangan martabat, mereka sedang mempraktikkan kemerdekaan batin yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara.
Apa yang bergema di panggung Lamahora tidak berhenti pada dentang lomba yang lalu lalang, melainkan sebuah nyanyian universal tentang kemanusiaan yang menemukan rumahnya kembali. Di sana, Howard Gardner seolah berbisik dari kejauhan, mengakui bahwa setiap nada dan gerak adalah bukti kecerdasan yang tak terpampang di atas kertas nilai. Sementara Sherry Turkle mengangguk lembut menyaksikan bagaimana kehadiran tubuh yang nyata mampu merobek kabut digital yang selama ini menyelimuti jiwa. Panggung itu menjadi oase di mana kecerdasan non-akademik dihargai setara, dan kehadiran fisik menjadi penawar bagi kesepian di tengah keramaian teknologi, mengonfirmasi bahwa nilai psikologis dari pertemuan langsung tak dapat digantikan oleh notifikasi layar.
Di atas tanah etika inilah, Ki Hajar Dewantara menanamkan akar yang dalam, mengingatkan bahwa kompetisi hanyalah angin yang menguji keteguhan batang, bukan tujuan akhir dari sebuah pertumbuhan. Kemenangan bukanlah mahkota yang paling berharga, melainkan kedewasaan yang tumbuh dari proses menerima segala kemungkinan dengan lapang dada. Karena itu, peristiwa ini bukan titik yang berdiri sendiri di peta waktu. Ia adalah mozaik indah yang menyatukan kebijaksanaan dunia dan bangsa, mengubah sebuah sore di Lembata menjadi ruang perjumpaan yang utuh, di mana manusia ditemukan kembali melampaui angka, layar, dan ego semata.
Artikel RD. Inno Koten dengan demikian tidak hanya menjadi catatan peristiwa, tetapi juga dokumen praktis yang merefleksikan teori-teori besar di bidang pendidikan. Tak berlebihan jika saya mengatakan bahwa ‘Lomba Lamahora’ berhasil menjadi mikrokosmos pendidikan ideal, tempat di mana manusia diutuhkan kembali melampaui angka, layar, dan ego kemenangan. (*)

















