Aksinews.id/Larantuka – Wakil Bupati Flores Timur, Ignas Boli Uran, S. Fil melaunching Kelurahan Pohon Sirih, Lokea dan Lohayong di Kecamatan Larantuka Kabupaten Flores Timur sebagai Kelurahan Cantik (Cinta Statistik) atas prakarsa Badan Pusat Statistik Kabupaten Flores Timur, Rabu, 15 April 2026 .
Launching 3 Kelurahan Cantik yang bertempat di aula Kantor Camat Larantuka itu ditandai dengan pemukulan gong oleh Wabup Boli Uran, penandatanganan dan penyerahan Piagam Kelurahan Cantik ke Lurah Pohon Sirih, Lurah Lohayong dan Lurah Lokea.
Wakil Bupati Ignas Boli Uran saat launcing yang dihadiri para Lurah dan Kepala Desa Se Kecamatan Larantuka, Perwakilan OPD terkait,Pegawai BPS, dan wartawan itu , didampingi Kepala BPS Kabupaten Flores Timur dan Camat Larantuka.

Program Kelurahan Cinta Statistik (Cantik )menurut Kepala BPS Flores Timur ,Feliksia Penaten Kelo Siola, hadir sebagai upaya memperkenalkan pentingnya statistik dalam pembangunan, memperkuat tata kelola data di tingkat lokal sehingga data yang dihasilkan menjadi lebih mutakhir, akurat dan dapat dipertanggungjawabkan, juga sebagai upaya memperkuat budaya sadar data di tingkat kelurahan dan desa sekaligus mendukung tugas BPS sebagaimana diamanatkan dalam UU Nomor 16 Tahun 1997 tentang Statistik.
Tidak Sekadar Tebar Pesona
Wabup Boli Uran saat memberi pengarahan mengatakan, pencanangan Desa dan Kelurahan Cantik tidak sekadar menebar pesona, tetapi harus ada tambahan daya tarik , ada program khusus tentang tata kelola data di setiap kelurahan dan desa. “Data harus kita siapkan akurat, benar, up to date, real time” katanya.
Menurutnya, kerap data yang disiapkan di tingkat paling bawah tidak akurat, dan sangat berpengaruh terhadap intervensi berbagai persoalan yang diskriminatif.
Ia mengkhawatirkan persoalan sosial akan semakin banyak timbul jika kita tidak memulai dengan tertib data.
Pemda, katanya, kerap mendapat complain, pengaduan dari masyarakat mengenai bantuan sosial, sentuhan kebencanaan, dan sebagainya karena data yang kurang akurat dan kurang dapat dipertanggungjawabkan.
Berangkat dari hal hal itu, menurut Wabup, Program Kelurahan dan Desa Cantik ini sangat berpengaruh signifikan bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Flores Timur hal mana bisa meningkatkan pengelolaan data Desa dan Kelurahan yang dapat dijadikan dasar untuk intervensi berbagai program secara tepat dan terukur.
Dia menilai, dengan ketersediaan data maka akan mempermudah akses pelayanan, menghemat waktu juga biaya. “Ada kebutuhan tertentu, misalnya kebencanaan, tinggal ambil saja data. Tidak perlu waktu dan biaya banyak,” katanya.
Selain itu, dengan tersedia data, mempermudah pimpinan mana pun maupun semua user data untuk menggunakan data secara real time secara akurat untuk berbagai kepentingan.
“Karena kalau tidak ada basis data yang real dan akurat, yang ada adalah asumsi, dan itu bahaya,” tegasnya.
Dia mencontohkan data tentang bencana gempa yang bervariasi dan punya deviasi yang tinggi padahal data visual ada.
Padahal menurutnya, dengan data yang tersedia, akan mempercepat pelayanan publik, optimalisasi pelayanan publik.
“Dengan tersedia data, intervensi akan objektif. Tidak ada kelompok masyatakat atau korban yang kita kecualikan karena suka tidak suka di lapangan. Atau karena akurasi data kita tidak baik dan tidak benar. Data itu penting untuk meminimalisir diskriminasi kebijakan.”

Dia berharap data harus transparan. Semua orang harus tau data itu. Supaya semua orang ikut awasi. Betul tidak data itu. Objektif tidak data itu.
Wabup berpesan, sebagai aparat, sejauh mungkin meminimalisir menggunakan posisi untuk kepentingan keluarga . “Berusaha menjadi birokrat yang profesional,” harapnya.
Dia meminta Lurah dan Kades tindak lanjuti program ini dengan memastikan tersedianya data komprehensif di Desa atau Kelurahan dengan memulai melakukan pembenahan data, melakukan data center system juga sistem pengamanan data.
Jadi Rumah Data
Sebelumnya, pada kesempatan itu, Camat Larantuka, Alexander P. da Silva, S. STP mengatakan data yang akurat, real time dan terukur tentu sangat membantu dalam mendukung pengambilan kebijakan .
Pihaknya menyadari ketersediaan data khususnya di Kecamatan Larantuka dan kelurahan/desa di kecamatan Larantuka saat ini masih jauh dari harapan.. Pihaknya masih menerima data mentah ,data yang belum diolah dari Kelurahan dan desa sehingga kerap lambat merespon permintaan data dari tingkat Kabupaten
Dengan pencanangan Kelurahan Cantik ini, dia berharap bisa membantu meningkatkan sumber daya di kecamatan,kelurahan dan desa menyediakan data terolah baik, obyektif, akurat dan terukur.
Baginya, pencanangan ini sebagai titik awal perubahan. Titik awal melompat lebih jauh untuk mendukung Flores Timur yang lebih produktif dan lebih bertenaga.
Dia mengajak Lurah dan Kepala Desa, serta aparat untuk mendukung para pimpinan , pengambil kebijakan dengan ketersediaan data yang real time, objektif, akurat dan terukur.
“Saya ajak para Lurah, Kades, ASN di kelurahan, kita jadikan Kecamatan kita, Kelurahan, Desa kita sebagai rumah data. Sehingga kedepannya kita bisa mensuport kebijakan di Babupaten dengan ketersediaan data yang objektif, akurat dan terukur.”
Data, Kompas Pembangunan
Kepala BPS Flores Timur Feliksia Penaten Kelo Siola, SP menjelaskan,sebagai lembaga yang bertanggung jawab menyediakan data statistik ,BPS memiliki peran strategis dalam menjadikan data sebagai kompas utama pembangunan. Data tersebut menjadi landasan penting dalam menavigasi kebijakan, membantu pemerintah dalam mengelola risiko secara lebih terukur serta memastikan alokasi sumber daya dilakukan secara efektif dan efisien. Dengan ukuran data yang berkualitas maka kita tidak hanya merencanakan pembangunan tetapi juga memastikan bahwa setiap kebijakan benar benar menjawab kebutuhan masyarakat.
“Siklus pembangunan yang berkualitas itu harus berangkat dari fondasi yang kuat yaitu data,” katanya.
Menurutnya, pada tahap perencanaan, data menjadi dasar merumuskan blue print pembangunan yang terukur dan realistis melalui analisis awal wilayah secara komprehensif. Selanjutnya pada tahap pelaksanaan , data memastikan setiap program atau proyek berjalan secara presisi dengan distribusi sumber daya yang tepat sasaran sesuai kebutuhan di lapangan. Sedangkan pada tahap evaluasi data berperan penting dalam menganalisis kinerja dan efektifitas program sehingga kita dapat melakukan penyesuaian strategi secara tepat dan berkelanjutan.
Dengan demikian, data tidak hanya mendukung tetapi menjadi penggerak utama dalam seluruh siklus pembangunan.
Dia menguraikan, di tengah semakin pentingnya data dalam pembangunan, kita juga dihadapkan pada tantangan besar dalam integrasi data.
Salah satu persoalan utama adalah masih terjadi silau data dan inkonsistensi antar sektor.
Data seringkali tersebar di berbagai institusi dengan metodologi dan defenisi yang berbeda beda.
Kondisi ini tidak hanya menyulitkan dalam menyatukan perspektif tetapi juga berpotensi tumpang tindihnya anggaran, kebingungan dalam menavigasi kebijakan serta inefisiensi dalam pelaksanaan program.
Di sisi lain kecepatan pembaruan data juga masih menjadi tantangan klasik yang dapat menghambat respon kebijakan yang lebih cepat dan tepat.
Sebagai jawaban atas tantangan integrasi data , sebenarnya pemerintah telah menghadirkan inisiatif Satu Data Indonesia sebagai solusi komprehensif.
Melalui pendekatan ini,integrasi arsitektur sistem menjadi kunci dalam merajut data yang akurat, mutakhir, terpadu serta dapat dipertanggungjawabkan.
Menurut BPS, Implementasi Satu Data Indonesia tidak akan berjalan optimal tanpa dukungan dari level yang paling dekat dengan masyarakat yaitu Desa dan Kelurahan.
Dan dalam konteks inilah, katanya, Program Kelurahan Cantik atau cinta statistik menjadi sangat relevan dan strategis.
“Kelurahan Cantik hadir sebagai upaya untuk memperkuat tata kelola data di tingkat lokal sehingga data yang dihasilkan menjadi lebih akurat, mutakhir dan dapat dipertanggungjawabkan,” katanya.
Dia menggambarkan perjalanan Desa dan Kelurahan Cantik di Kabupaten Flores Timur menunjukan komitmen yang terus tumbuh dalam membangun budaya sadar data tingkat lokal. Dimulai pada tahun 2022 di Kelurahan Postoh, Program ini menjadi langkah awal dalam memperkenalkan pentingnya statistik dalam pembangunan. Semangat penguatan data kembali dilanjutkan pada tahun 2024 melalui desa Lamawalang, tahun 2025 berkembang ke kekurahan Balela dan pada tahun ini locusnya di Kelurahan Pohon Sirih, Lokea dan Lohayong.
Perjalanan ini menurutnya mencerminkan upaya berkelanjutan dalam memperluas jangkauan dan dampak program sehingga makin banyak desa dan kelurahan yang mampu mengelola dan memanfaatkan data secara optimal dalam pembangunan. (Kornel AT)






















