Waktu kantor telah usai, saat semua telah kembali kerumah,kantor mulai sepi matahari kembali keperaduannya. Langkah kaki Peter terdengar menyusuri lorong. Bertahun-tahun ia menjadi Satpam, menjaga kantor di tengah kesunyian, gelap dari yang tak terlihat.
Tangannya yang lincah meraih jendela dan pintu, ia memastikan semua ruangan sudah terkunci lalu mematikan lampu dan AC. Beralaskan tikar, Peter membaringkan badannya menarik selimut dan tidur sambil berjaga sepanjang malam. Kerinduannya untuk tidur bersama keluarganya diabaikan demi tanggungjawabnya menjaga kemanan kantor.

Namun hari ini suasananya berbeda, Peter tidak lagi membawa senter dan buku piket. Kini, ia datang dengan seragam Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri), berkopiah dan terpampang lambang Aparatur Sipil Negara di dada kanan, langkahnya pelan memasuki ruangan. Sambil menggengam tas kecil, ia duduk di ruang kerjanya yang baru sebagai pegawai administrasi perkantoran di Divisi Sumber Daya Manusia dan Organisasi pada Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Lembata.
“Dulu saya jaga kantor dari luar, sekarang saya ikut jaga dari dalam,” ujarnya sambil tersenyum haru. Ya, sambil menjaga kantor, Peter pun sedang menenun harapan.
Nama lengkapnya, Petrus Suban Lamakraja. Dia memang lebih akrab disapa Peter. Ia memulai kariernya dengan melamar pada Panitia Pengawas Pemilihan Kabupaten Lembata pada Tahun 2017 sebagai sopir. Saat itu, Bawaslu belum memiliki struktur permanen dan masih bersifat ad-hoc (sementara). Pada Tahun 2019, Peter dialihkan tugasnya sebagai Satpam dan menjadi bagian dari Pegawai Pemerintah Non-Pegawai Negeri Sipil.
Kendati dengan gaji pas-pasan, sama sekali tak menyurutkan niat Peter untuk terus bekerja.
Saat bekerja sebagai sopir, setiap hari ia menghantar pimpinan ke berbagai lokasi di tengah padatnya Pemilu dan Pilkada, di balik profesinya itu diam-diam ia mencatat dan belajar.
Setelah beralih menjadi satpam, setiap pagi, sebelum kembali, Peter selalu menyempatkan membantu sekadar menyapu halaman dan mengepel kantor. Kadang ia juga diminta mengantarkan surat, membantu mengangkat berkas-berkas, mencuci mobil bahkan mengganti air galon. “Walau kerja saya sederhana, saya merasa bagian dari kantor ini,” katanya.
Peter tak pernah lelah belajar. Di sela-sela mengerjakan tugasnya, Peter selalu memperhatikan pegawai menggunakan komputer. Di waktu senggangnya, ia belajar mengetik, belajar membuka email bahkan minta diajari cara membuat laporan sederhana. Selain itu, Peter juga sering diminta menjadi fotografer dalam setiap moment. Sekarang Peter sudah bisa membuat surat, bisa mengoperasikan computer, bahkan sudah bisa mengarsipkan surat-surat dan membuat laporan. “Saya sadar, saya harus punya bekal lebih kalau ingin maju,” ujarnya.
Tahun demi tahun ia habiskan dengan harapan meski kecil bahwa suatu hari akan ada kesempatan untuk naik kelas dan kesempatan itupun datang. Badan Pengawas Pemilihan Umum berdasarkan Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 329 Tahun 2024 tentang Penetapan Kebutuhan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja di Lingkungan Instansi Pemerintah Tahun Anggaran 2024, membuka kesempatan kepada pegawai non ASN di lingkungan Badan Pengawas Pemilihan Umum untuk menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja.
Peter menggunakan kesempatan tersebut sebaik-baiknya dengan belajar pengetahuan umum, wawasan kebangsaan juga tentang kepribadian. Peter mengikuti seluruh proses tes mulai dari pendaftaran sampai dengan tes. Berkat kerja keras dan usaha yang tekun, Peter dinyatakan lulus dalam seleksi tersebut.
Peter dilantik secara resmi bersama teman-teman yang lainnya. Ya, Peter resmi diangkat menjadi pegawai administrasi. “Air mata ini jatuh bukan karena sedih tapi karena melihat pengabdian yang dihargai,” ucapnya.
Kini, Peter punya meja kerja sendiri. Ia membantu bagian administrasi perkantoran. Ia tetap rendah hati, tetap sopan, dan tetap rajin datang paling pagi. Kini Peter menjadi inspirasi banyak orang di kantornya.
Kisah Peter bukan sekadar kisah satu orang. Ia adalah simbol bahwa kerja keras, kejujuran, dan semangat belajar tak pernah sia-sia. Dari penjaga kantor yang tak terlihat, ia kini menjadi bagian penting dalam sistem kerja yang ia jaga selama ini.
“Jangan pernah malu memulai dari bawah. Yang penting jangan berhenti naik. Lambat pun, asal naik terus, kita akan sampai juga,” tutupnya sambil memandangi ruang kantor tempat ia pernah hanya menjadi penjaga malam. (Indah Purnama Dewi)

























Pengabdian tanpa batas akan indah pada waktunya ketika sukses menghampirinya.