Kritis & Terpercaya
Beli Tema IniIndeks
banner 728x250

Tamu Bule Festival Lamaholot Menyusuri Tangga Seribu Menuju Kampung Adat Watun Lewo Pito

banner 120x600
banner 468x60

Aksinews.id/Lewoleba –  Tak cuma mampir ke Desa Muruona. Para tamu bule dari Amerika Serikat dan Australia juga menyambangi kampung adat Watun Lewo Pito, Desa Lamagute. Ini bagian dari post tour hari ketiga Festival Lamaholot 2026. Peserta diajak melakukan perjalanan mendaki menuju kampung lama melewati tangga seribu. 

Setelah tiba, rombongan  diterima dengan upacara adat penyambutan tamu kemudian menuju lokasi namang untuk menikmati penjelasan dan makan siang bersama dengan kuliner lokal khas Watun Lewo Pito.

banner 325x300

Setelah itu, rombongan mengunjungi pembuatan kerajinan lokal tenun ikat tradisional dan proses pembuatan jagung titi, proses pembuatan arak, serta kunjungan ke rumah adat suku tempat penyelenggaraan utan wuun Lolon, yakni rumah adat suku Betekeneng, rumah adat suku Lemanuk, rumah adat suku Bleker, rumah adat suku Teken Buto dan rumah adat suku Atwatung Sarigading dan rumah adat suku Beni Kakan dan rumah adat Lawi Gesi.

Kegiatan ditutup dengan sole oha bersama masyarakat adat Lamaholot Watun Lewo Pito, desa Lamagute.

Sesuai agenda kegatan Festival Lamaholot 2026, hari ketiga pada Jumat, 3 Juli 2026, memang digelar kegiatan budaya yang melibatkan komunitas adat, pelaku ekonomi kreatif, wisatawan, serta masyarakat umum.

Sejak pukul 09.00 hingga 22.00 WITA, kawasan Pantai Wulen Luo, eks Harnus Lewoleba, dipadati oleh pameran tenun Lamaholot yang menampilkan karya para penenun dan pelaku ekonomi kreatif dari berbagai daerah di Nusa Tenggara Timur.

Tidak hanya komunitas Ekraf Lamaholot. Pameran tersebut juga diikuti pelaku ekonomi kreatif dari Kabupaten Sikka, Ende, Ngada, Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur, dan Nagekeo.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lembata, Jack Wuwur menjelaskan, kegiatan ini menjadi ruang promosi sekaligus pertemuan budaya antarwilayah melalui ragam motif dan kekayaan tenun tradisional Flores dan Lembata.

Kadis Pariwisata menjelaskan, pada waktu yang sama, panitia juga menggelar post tour budaya menuju Kampung Adat Watun Lewo Pito di Desa Lamagute dan Festival Muro di Desa Kolontobo.

Rangkaian kegiatan diawali dengan penjemputan rombongan peserta, dilanjutkan kunjungan ke Utan Werun atau Pesta Kacang sebagai bagian dari tradisi masyarakat setempat. Setelah santap siang bersama, peserta kemudian mengunjungi Festival Muro di Desa Kolontobo yang mengangkat tema konservasi laut sebelum kembali ke Kota Lewoleba pada sore hari.

Kegiatan wisata budaya tersebut melibatkan komunitas adat Watun Lewo Pito, komunitas adat Kolontobo, wisatawan mancanegara dan domestik, serta masyarakat umum.

Agenda ini menjadi upaya memperkenalkan kekayaan tradisi lokal sekaligus praktik pelestarian lingkungan yang diwariskan secara turun-temurun.

Memasuki malam hari, mulai pukul 18.00 hingga 22.00 WITA, Pantai Wulen Luo kembali menjadi pusat perhatian melalui lomba pentas seni budaya dan pertunjukan musik langsung.

Sejumlah desa wisata, di antaranya Desa Wisata Lolong dan Desa Wisata Labalimut, bersama sanggar-sanggar sekolah serta komunitas musik turut ambil bagian menampilkan kreativitas seni tradisional dan modern di hadapan pengunjung festival. Beragam agenda pada hari ketiga ini semakin menegaskan Festival Lamaholot sebagai wadah pelestarian budaya, penguatan ekonomi kreatif, promosi desa wisata, serta ruang perjumpaan masyarakat adat dengan wisatawan dari berbagai daerah dan negara. (Disparekraf Lembata/AN-01)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *