Aksinews.id/Lewoleba – Uskup Larantuka, Mgr Yohanes Hans Monteiro melakukan pertemuan terbatas dengan dua kelompok yang khusus membicarakan persoalan Geotermal di Atadei. Senin, 16 Maret 2026, Monsigneur Hans menerima Front Masyarakat Lembata untuk Keadilan (FRONTAL) dan Selasa, 17 Maret 2026, menerima delegasi dua paroki di Atadei, Paroki Lerek dan Paroki Kalika.

Dalam kedua forum terbatas itu, Monsigneur Hans secara tegas menyatakan sikap Gereja Keuskupan Larantuka sejalan dengan sikap Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, yang menolak pembangunan geotermal di wilayah Flores – Lembata. “Uskup bisa berganti orang. Tapi sikap gereja terhadap geotermal tetap tidak berubah,” tandas Mgr. Hans menjawab pertanyaan peserta dialog saat bertemu aktivis FRONTAL.
Dalam pertemuan di Aula Paroki Maria Banneux Lewoleba, Senin, 16 Maret 2026, FRONTAL juga menghadirkan Forum Komunikasi Pemuda Atakore (FKPA), beberapa Tokoh Adat Atakore dan perempuan dari Atakore. Mereka menyampaikan sejumlah persoalan yang timbul akibat rencana pembangunan geothermal kepada Uskup Larantuka.
Dalam pertemuan itu, FRONTAL telah menyampaikan berbagai dugaan manipulasi yang dilakukan terhadap umat stasi Watuwawer agar mendapatkan legitimasi terhadap proyek ini. Dugaan manipulasi ini juga diungkapkan langsung oleh Tokoh Adat yang juga sebagai umat katolik. Salah satunya, ia telah menolak geothermal namun ia diwawancarai terkait kamtibmas lalu diberitakan mendukung geothermal. Padahal ia tidak pernah mengatakan mendukung geothermal.
Termasuk pencatutan nama Tokoh Adat dan Tokoh Perempuan. Mereka juga sudah bicara langsung pada Uskup Hans Monteiro. Jadi ada banyak hal yang diungkapkan dalam pertemuan itu termasuk kerentanan Atadei sebagai lokasi pembangunan PLTP Atadei.
FRONTAL juga sempat menjelaskan kepada Uskup Hans Monteiro bahwa penjelasan kepada umat Stasi Watuwawer itu tidak tuntas. Penjelasan tentang geologi, geofisika geokimia dan kebencanaan itu belum dijelaskan sampai saat ini. Sebab, pada waktu yang lalu, masyarakat menuntut hal itu.
Hal ini merupakan bagian penting yang harus diketahui warga sebelum dieksploitasi, mengingat eksploitasi akan segera dilakukan. Jadi hal-hal ini yang membuat kami akhirnya menemui Uskup Frans Monteiro untuk menyampaikan dugaan manipulasi kepada umat di Stasi Watuwawer.
“Dalam pertemuan itu, kami mendengar langsung, Uskup Hans Monteiro menegaskan bahwa sikap penolakan gereja terhadap geothermal tidak berubah. Penolakan ini merupakan sikap gereja secara institusi sehingga Uskup berganti sekalipun, sikap menolak tetap sama,” papar Juru Bicara FRONTAL, Philipus Payong Lamatapo.
“Bahkan kami juga mendapatkan penjelasan bahwa gereja tidak selesai dalam urusan surat gembala. Gereja sudah melakukan beberapa hal dan kedepannya gereja tetap akan tetap berjuang.”
Selain itu, Uskup Hans Monteiro juga berpesan agar umat katolik yang telah dibaptis memiliki tugas profetis. “Hal ini kami maknai bahwa FRONTAL dan semua umat katolik harus terus memperjuangkan keadilan bagi yang tertindas namun tetap mengedepankan cinta kasih. Sebab ia juga berpesan agar tetap hati-hati sehingga tidak menimbul konflik horizontal antara sesama umat,” ujar Philipus Payong.
“Bagi kami FRONTAL, pesan Uskup ini penting untuk diteruskan ke umat katolik lainnya bahwa gereja sudah berjuang dan umat harus tetap bersuara dengan tetap menjunjung tinggi hukum cinta kasih antara sesama umat Allah sesuai dengan ajaran Kristus,” tandasnya. (*/AN-01)

























