Sekedar Pengantar dari Thomas Atalajar:
Entah kenapa, jarang sekali saya membaca kembali buku karya sendiri yang sudah diterbitkan, dilaunching, sudah beredar ke pembaca, yang dipajang di toko buku dan perpustakaan-perpustakaan. Pasalnya, begitu turun dari mesin percetakan, ibarat masih panas-panas hangat, saya langsung pelototi dan baca habis, sambil mencocokannya dengan naskah final editing yang saya tandatangani sebelum naik cetak.

Paling-paling yang saya suka sekali baca adalah prolog serta epilognya, kata sambutan, komentar buku, resensi bukunya serta tulisan aneka media yang meliput acara bedah buku atau launchingnya. Karena disana ada tulisan penilaian dan ulasan; ada timbangan objektif mengenai kualitas dan bobot buku yang sajikan seperti informasi tentang kelebihan dan kekurangannya; keunggulan dan kelemahannya; serta masukan bagi penulis berupa kritik dan saran, termasuk analisis kritis tentang isi, bahasa hingga tampilan fisik.
Dari sekian banyak buku bergenre sejarah maupun biografi karya penulis, tanpa saya sadari, saya telah melibatkan begitu banyak pakar, intelektual, akademisi, sastrawan, sejarawan, penulis, jurnalis serta tokoh kondang, yang turut serta memberikan pemikiran membangunnya.
Ada yang bahkan menghiasi nama penulisnya dengan aneka predikat. Pemda Provinsi DKI Jakarta menyebutnya “Thomas Toko Merah”. Sementara penulis produktif ibukota asal Bumi Lamaholot, Robert Bala Tolok menyebut Thomas Ataladjar dengan predikat lain, “Penulis Anjing Pelacak”. Ternyata ada penulis ibukota lainnya, seorang pengamat sejarah, dan mantan editor Yayasan Obor Indonesia, Thomas Bambang Murtianto. Pendiri dan pemimpin penerbit Insan Merdeka ini dalam komentarnya dalam buku “Si Jagur, Legenda dan Kisah Sejarahnya”, memberikan predikat lain lagi bagi penulisnya : Thomas “Jagur” Ataladjar”, yang diangkat jadi judul komentarnya di bawah ini: Thomas “Jagur” Ataladjar,Cangkul dan Gali Terus Sampe Bodo. Selamat menikmati, semoga ada manfaatnya. (Thomas Ataladjar)
Thomas “ Jagur” Ataladjar, Cangkul Dan Gali Terus Sampe Bodo
Oleh: Thomas Bambang Murtianto
Penulis adalah mantan Editor Yayasan Obor Indonesia, Pengamat Sejarah Tragedi 1965, Pendiri dan Pemimpin Penerbit Insan Merdeka
Duapuluh tiga tahun silam, tepatnya tahun 2003, penulis buku Si Jagur ini mengejutkan jagad dunia kebudayaan dan sejarah kota Jakarta dengan bukunya berjudul, “TOKO MERAH ,Saksi Kejayaan Batavia Lama Di Tepian Muara Ciliwung”. Tidak berlebihan bila namanya kemudian secara iseng mendapat julukan, “Thomas Toko Merah”.
Kali ini dia datang lagi tampilkan buku bergenre Sejarah Jakarta dengan judul dan cover depan yang tak kalah merangsang ” SI JAGUR, Kisah Sejarah dan Legendanya”. Thomas dengan tekun melacak tapak jejak meriam kuno tersebut, lalu bercerita tentang hikayat meriam , “Si Jagur”, yang kisah-kisahnya selama ini diselimuti sampai berlumut-lumut dengan legenda rakyat. Ia coba kuliti dengan tekun dan tuntas satu demi satu, asal-usul historisnya dengan data data yang sangat boleh jadi tidak pernah kita temukan sebelumnya dalam bahasa Indonesia. Sehingga apa yang dikisahkannya seperti menabrak-nabrakkan kita dan mengaget-ngagetkan kita; karena semprotan kejutan yang diusungnya, meski nasehat nenek moyang selalu berkata “ojo kagetan”. Tidak berlebihan bila dia kini mendapat sisipan nama tengah yang kebetulan cocok dengan nada Flores Timur dan Lembata sana, Thomas”Jagur”Ataladjar.

Dengan ketekunan, keuletan dan kegigihan serta daya ingin tahunya yang menggebu, ia menggali dan mencangkul terus selama bertahun-tahun, meresapkannya dalam jiwa, menyambungnya dengan pengetahuan-pengetahuan lain yang sudah dimiliki, merawatnya, lalu menghidangkan apa yang selama ini luput dari perhatian. Kita seolah diajak mengembara ke segala penjuru angin, berkenalan dengan tokoh-tokoh dalam sejarah, mengintip banyak tempat, dari Museum Fatahillah di Jakarta, sampai Kraton Solo Hadiningrat , Banten Lama, Lohayong di Solor, lalu meloncat ke Malaka, Macao, Goa hingga Lisabon.
Buku ini mulai dengan suatu pertanyaan keheranan penulisnya. “Kenapa ada sebuah meriam bisa-bisanya tampil petentengan kurang ajar begini? Kenapa ada “ mano in fica” sebagai penghias buntut Meriam yang oleh sementara orang dianggap porno? Kenapa Meriam dari tembaga ini malah disajeni, dikeramatkan dan jadi tujuan orang datang “minta anak “ darinya? Apa pula makna inskripsi di tubuh meriam ” Ex Me Ipsa Renata Sum?” Bagaimana pula ceritanya sampai benda bodok ini sampai ada di sini?” Dari situlah pijakan awal penelusuran historis dilakukan sampai jauh. Kita diajak berselancar di atasnya, sampai ke zaman Trunojoyo, sampai ke Goa, Macau, Malaka, Banten Lama tempat saudaranya ”Ki Amuk” bersemayam, sampai ke balik kelambu di Siti Hinggil di Kraton Surakarta Hadiningrat, tempat ”istri” si Jagur, Kanjeng Nyai Setomi menggelepar sembari meratap kesepian di balik kelambu.
Penulisan Sejarah Gaya Baru
Sungguh………suatu pendekatan cara menulis kisah sejarah gaya baru yang memikat. Telah lahir satu genre baru cara menuturkan sejarah secara menarik. Tanggal dan tahun tetap penting, tetapi itu terjalin dalam kisah logika yang runtut, terhidang dalam bahasa ilmiah yang populer: “Enteng tapi berisi, ringan seolah mengapung, namun tetap punya kedalaman”. Sejarawan profesional pun belum tentu sanggup melakukan hal ini.
Pertanyaan yang muncul, metode apa yang kiranya dipakai penulis ini ? Barangkali penulis sendiri akan langsung menjawabnya: “historical research”, karena apa yang dilakukannya sekedar menunaikan tugas pribadinya dalam penulisan literasi sejarah yang memang disukai dan menarik baginya. Saya lalu teringat, bahwa dalam filsafat dikenal sebuah metode, namanya “fenomenologi”, yang diperkenalkan Edmund Husserl (1859-1938). Salah satu prinsipnya adalah “kembalilah kepada bendanya itu sendiri” (back to the things themselves), asli Jermannya: “nach den sachen selbst” biarkan benda itu menampakkan dirinya, bercerita tentang dirinya kepada kita yang memberi intensi kepadanya. (Kepada yang tidak memberi intensi cukup, tentu benda itu tidak bisa cerita banyak).

Dan intensi yang diberikan penulis kepada penampilan meriam “Si Jagur” itu merangsang minatnya, untuk terus memburu, mengejar, melacak, menyibak apa yang ada di balik tirai seutuh-utuhnya, setuntas-tuntasnya meski serentak dengan itu tetap ada sisi lain yang tersembunyi untuk kemudian terus diburu.
Sebagai anak bangsa, saya kali ini ikut bergembira, karena buku yang ‘enteng tapi mendalam’ ini ditulis oleh orang Indonesia kita sendiri. Bukan oleh orang asing yang dalam banyak hal lain tahu lebih banyak isi perut masa silam bangsa kita.
Maka buku ini tidak sekedar mengingatkan apa yang kita lupakan. Belakangan ini santer muncul ‘gerakan melawan lupa’, tetapi lebih dalam lagi, yakni menggugah kita tentang apa yang kita “tidak tahu sama sekali” tentang budaya dan sejarah kita yang begini kaya, bila kita rela mengalinya dengan penuh semangat (passion) dan cinta.
Penulis buku ini bukan seorang sejarawan kondang. Tetapi bukunya ini seolah menantang para sejarawan profesional, atau yang mengaku diri sejarawan untuk mampu menghadirkan fakta sejarah dari sebuah benda kecil yang sangat biasa , dan dengan berangkat dari lingkaran kecil bergerak menuju lingkaran lingkaran besar hingga akhirnya menjadi lukisan yang terbingkai dengan indah.

Lewat buku ini juga, para sejarawan Tanah Air seolah diingatkan, bahwa untuk dapat mengungkapkan fakta-fakta sejarah bangsa ini yang begini kaya, kuasailah bahasa BELANDA! Hanya dengan cara itu mampulah kita menguasai sumber-sumber sejarah bangsa sendiri. Sebab suka tidak suka, selama ratusan tahun, Indonesia dijajah Belanda. Tetap ada satu hal baik yang diwariskan Belanda (disamping hal-hal buruk, karena namanya juga penjajah) adalah arsip-arsip yang rapih,”dagh register” dan catatan berbagai sisi kehidupan masyarakat kita tempo dulu, adat istiadat, peristiwa, arsitektur, tata kota, atau segi apapun, yang begitu detail dan sangat istimewa apabila bisa digali. Tanpa penguasaan bahasa Belanda, para sejarawan hanya akan melakukan representasi belaka, alias mengulang-ulang saja apa yang sudah dikatakan pendahulunya, tiada terobosan baru yang signifikan.
Non Multa Sed Multum
Akhirnya buku ini seolah meneguhkan sebuah kebenaran kuno yang sudah ada sejak jaman Romawi kuno, bahwa pengetahuan yang memuaskan haus dahaga jiwa bukanlah karena tahu banyak tapi sedikit sedikit, melainkan tahu banyak tentang satu hal. “Non multa sed multum”. Bukan luasnya pengetahuan, melainkan mendalamnya pengetahuan itu. Repotnya, konon, anak-anak kita sejak SD harus menderita dengan begitu banyak pengetahuan yang dijejalkan lewat tas sekolah yang harus mereka pikul.
“Non Multa Sed Multum”
Lebih Memuaskan Jiwa
Tahu Satu Hal Tapi Banyak
Daripada Tahu Banyak Hal
Tapi Sedikit-Sedikit
Kepada penulis Thomas “Jagur” Ataladjar, kami mengucapkan terimakasih dan salut atas sumbangsihnya bagi bangsa. Teruslah berkarya ! ,” Cangkul dan Gali Terus Sampe Bodo “.***(Thomas Bambang Murtianto)

















