Kritis & Terpercaya
Beli Tema IniIndeks
banner 728x250

Thomas “ Jagur” Ataladjar, Cangkul Dan Gali Terus Sampe Bodo

banner 120x600
banner 468x60

Sekedar Pengantar dari Thomas Atalajar:

Entah kenapa, jarang sekali saya membaca kembali buku karya sendiri yang sudah diterbitkan, dilaunching, sudah beredar ke pembaca, yang dipajang di toko buku dan perpustakaan-perpustakaan. Pasalnya, begitu turun dari mesin percetakan, ibarat masih panas-panas hangat, saya langsung pelototi dan baca habis, sambil mencocokannya dengan naskah final editing yang saya tandatangani sebelum naik cetak.

banner 325x300

Paling-paling yang saya suka sekali baca adalah  prolog serta epilognya, kata sambutan, komentar buku, resensi bukunya serta tulisan aneka media yang meliput acara bedah buku atau launchingnya. Karena disana ada tulisan penilaian dan ulasan; ada timbangan objektif mengenai  kualitas dan bobot  buku yang sajikan seperti  informasi tentang kelebihan dan kekurangannya; keunggulan dan kelemahannya; serta  masukan bagi penulis berupa  kritik dan saran, termasuk analisis kritis tentang isi, bahasa  hingga  tampilan fisik.

Dari sekian banyak buku bergenre sejarah maupun biografi karya penulis,  tanpa saya sadari, saya  telah melibatkan begitu banyak pakar, intelektual, akademisi, sastrawan, sejarawan,   penulis, jurnalis serta  tokoh kondang, yang turut serta memberikan pemikiran membangunnya.

Ada yang bahkan menghiasi nama penulisnya dengan aneka predikat. Pemda Provinsi DKI Jakarta menyebutnya “Thomas Toko Merah”. Sementara penulis produktif ibukota asal Bumi Lamaholot, Robert Bala Tolok menyebut Thomas Ataladjar  dengan predikat lain, “Penulis Anjing Pelacak”. Ternyata ada penulis ibukota lainnya, seorang  pengamat sejarah, dan mantan editor Yayasan Obor Indonesia, Thomas  Bambang Murtianto. Pendiri dan pemimpin penerbit  Insan Merdeka ini dalam komentarnya dalam buku “Si Jagur, Legenda dan Kisah Sejarahnya”,  memberikan  predikat lain lagi bagi  penulisnya : Thomas “Jagur” Ataladjar”, yang diangkat jadi judul  komentarnya di bawah ini: Thomas “Jagur”  Ataladjar,Cangkul  dan Gali Terus Sampe Bodo.  Selamat menikmati, semoga ada manfaatnya. (Thomas Ataladjar)

Thomas “ Jagur” Ataladjar, Cangkul Dan Gali Terus Sampe Bodo

Oleh: Thomas  Bambang Murtianto

Penulis adalah mantan Editor Yayasan Obor Indonesia, Pengamat Sejarah Tragedi 1965, Pendiri dan Pemimpin Penerbit  Insan Merdeka

Duapuluh tiga tahun silam, tepatnya tahun 2003, penulis buku Si Jagur ini mengejutkan jagad dunia kebudayaan dan sejarah kota Jakarta dengan bukunya berjudul, “TOKO MERAH ,Saksi Kejayaan Batavia Lama Di Tepian Muara Ciliwung”. Tidak berlebihan bila namanya kemudian secara iseng mendapat julukan, “Thomas Toko Merah”.

Kali ini  dia datang lagi tampilkan buku bergenre Sejarah Jakarta  dengan judul  dan cover depan yang tak kalah merangsang ” SI JAGUR, Kisah Sejarah dan Legendanya”. Thomas dengan tekun melacak tapak jejak meriam kuno tersebut, lalu bercerita tentang  hikayat meriam , “Si Jagur”, yang kisah-kisahnya selama ini diselimuti sampai berlumut-lumut dengan legenda rakyat. Ia coba kuliti dengan tekun dan tuntas satu demi satu, asal-usul historisnya dengan data data yang sangat boleh jadi tidak pernah kita temukan sebelumnya dalam bahasa Indonesia. Sehingga apa yang dikisahkannya seperti menabrak-nabrakkan kita dan mengaget-ngagetkan kita; karena semprotan kejutan yang diusungnya, meski nasehat nenek moyang selalu berkata “ojo kagetan”. Tidak berlebihan bila dia kini mendapat  sisipan nama tengah yang kebetulan cocok dengan nada Flores Timur dan Lembata sana, Thomas”Jagur”Ataladjar.

Dengan ketekunan, keuletan dan kegigihan serta daya ingin tahunya yang menggebu, ia menggali dan mencangkul terus selama bertahun-tahun, meresapkannya dalam jiwa, menyambungnya dengan pengetahuan-pengetahuan lain yang sudah dimiliki, merawatnya, lalu menghidangkan apa yang selama ini luput dari perhatian. Kita seolah diajak mengembara ke segala penjuru angin, berkenalan dengan tokoh-tokoh  dalam sejarah,  mengintip banyak tempat, dari Museum Fatahillah di Jakarta, sampai Kraton Solo Hadiningrat , Banten Lama, Lohayong di Solor, lalu meloncat ke Malaka, Macao, Goa hingga Lisabon.

Buku ini mulai dengan suatu pertanyaan keheranan penulisnya. “Kenapa ada sebuah meriam bisa-bisanya tampil petentengan kurang ajar begini? Kenapa ada “ mano in fica” sebagai penghias buntut Meriam yang oleh sementara orang dianggap porno? Kenapa Meriam dari tembaga ini malah disajeni, dikeramatkan dan jadi tujuan orang datang “minta anak “ darinya?  Apa  pula makna inskripsi di tubuh meriam ” Ex Me Ipsa Renata Sum?” Bagaimana pula ceritanya sampai  benda bodok ini sampai ada di sini?” Dari situlah  pijakan awal penelusuran   historis dilakukan sampai jauh. Kita diajak berselancar di atasnya, sampai ke zaman Trunojoyo, sampai ke Goa, Macau, Malaka,  Banten Lama tempat saudaranya ”Ki Amuk” bersemayam, sampai ke balik kelambu di Siti Hinggil  di Kraton Surakarta Hadiningrat, tempat ”istri” si Jagur, Kanjeng Nyai Setomi menggelepar sembari meratap kesepian di balik kelambu.

Penulisan  Sejarah Gaya Baru

Sungguh………suatu pendekatan cara menulis kisah sejarah gaya baru yang  memikat. Telah lahir satu genre baru  cara menuturkan sejarah  secara menarik. Tanggal dan tahun tetap penting, tetapi itu terjalin dalam kisah logika yang runtut, terhidang dalam bahasa ilmiah yang populer: “Enteng tapi berisi, ringan seolah mengapung, namun tetap punya  kedalaman”. Sejarawan profesional pun belum tentu sanggup melakukan hal ini.

Pertanyaan yang muncul, metode apa yang kiranya dipakai penulis ini ? Barangkali penulis sendiri akan langsung  menjawabnya: “historical research”, karena apa yang dilakukannya sekedar menunaikan tugas pribadinya dalam  penulisan literasi sejarah yang memang disukai dan menarik baginya. Saya lalu teringat, bahwa dalam filsafat  dikenal sebuah metode, namanya “fenomenologi”, yang diperkenalkan Edmund Husserl (1859-1938). Salah satu prinsipnya adalah “kembalilah kepada bendanya itu  sendiri” (back to the things themselves), asli Jermannya: nach den sachen selbst biarkan benda itu menampakkan dirinya, bercerita tentang dirinya kepada kita yang memberi intensi kepadanya. (Kepada yang tidak memberi intensi cukup, tentu benda itu tidak bisa cerita banyak).

Dan intensi yang diberikan penulis kepada penampilan meriam “Si Jagur” itu merangsang minatnya, untuk terus memburu, mengejar, melacak, menyibak apa yang ada di balik tirai seutuh-utuhnya, setuntas-tuntasnya meski serentak dengan itu tetap ada  sisi lain yang tersembunyi untuk kemudian terus diburu. 

Sebagai anak bangsa, saya  kali ini ikut bergembira, karena buku  yang ‘enteng tapi mendalam’ ini ditulis oleh orang  Indonesia kita sendiri. Bukan oleh orang asing yang dalam banyak hal lain tahu lebih banyak isi perut masa silam bangsa kita.

Maka buku ini tidak sekedar mengingatkan apa yang kita lupakan. Belakangan ini santer muncul ‘gerakan melawan lupa’,  tetapi lebih dalam lagi, yakni menggugah kita tentang apa yang kita “tidak tahu sama sekali” tentang budaya dan sejarah kita  yang begini kaya, bila kita rela mengalinya dengan penuh semangat (passion) dan cinta.

Penulis buku ini bukan seorang sejarawan kondang. Tetapi bukunya ini seolah menantang para sejarawan profesional, atau yang mengaku diri sejarawan untuk mampu menghadirkan fakta sejarah dari sebuah benda kecil yang sangat biasa , dan dengan berangkat dari lingkaran kecil bergerak menuju lingkaran lingkaran besar hingga akhirnya menjadi lukisan yang terbingkai dengan indah. 

Lewat buku ini juga, para sejarawan Tanah Air seolah diingatkan, bahwa untuk dapat mengungkapkan fakta-fakta sejarah bangsa ini yang begini kaya, kuasailah bahasa BELANDA! Hanya dengan cara itu  mampulah kita menguasai sumber-sumber  sejarah bangsa sendiri. Sebab suka tidak suka, selama ratusan tahun, Indonesia dijajah Belanda. Tetap ada satu hal  baik yang diwariskan Belanda (disamping hal-hal buruk, karena namanya juga penjajah) adalah  arsip-arsip yang rapih,”dagh register” dan catatan berbagai sisi kehidupan masyarakat kita  tempo dulu, adat istiadat, peristiwa, arsitektur, tata kota, atau segi apapun,  yang begitu detail dan sangat istimewa apabila bisa digali.  Tanpa penguasaan bahasa Belanda, para sejarawan hanya akan  melakukan representasi belaka, alias mengulang-ulang saja apa yang sudah dikatakan pendahulunya, tiada terobosan baru yang signifikan.

Non Multa Sed Multum

Akhirnya buku ini seolah meneguhkan sebuah kebenaran kuno yang sudah ada sejak jaman Romawi kuno,  bahwa pengetahuan yang memuaskan haus dahaga jiwa  bukanlah karena tahu banyak tapi sedikit sedikit, melainkan tahu banyak tentang satu hal. “Non multa sed multum”. Bukan luasnya pengetahuan, melainkan   mendalamnya pengetahuan itu. Repotnya, konon, anak-anak kita sejak SD harus menderita  dengan begitu banyak pengetahuan yang dijejalkan lewat tas sekolah yang harus mereka pikul.

“Non Multa Sed Multum”

Lebih Memuaskan Jiwa

Tahu Satu Hal Tapi Banyak 

Daripada Tahu Banyak Hal

Tapi Sedikit-Sedikit

Kepada penulis Thomas “Jagur” Ataladjar, kami mengucapkan terimakasih dan salut atas sumbangsihnya bagi bangsa.  Teruslah  berkarya ! ,” Cangkul  dan Gali Terus Sampe Bodo “.***(Thomas  Bambang Murtianto)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *