Tawa penonton pecah saat menonton penampilan anak-anak bernyanyi dalam panggung acara PesTa (Pentas Cerita) yang diselenggarakan oleh komunitas Pondok Perubahan, Sabtu, 28 Februari 2026, mulai pukul 17.00 WITA. Walau langit mendung dan mulai muncul rintik-rintik hujan di sore hari itu, tapi tak menghapus semangat para anak untuk tetap tampil dengan percaya diri demi menghibur penonton.
PesTa (Pentas Cerita) Vol. 1 ini tumbuh dari ide anak-anak kompleks yang mengikuti program rutin Pondok Perubahan “Pojok Baca”. Program yang bertujuan untuk meningkatkan minat baca dan literasi anak-anak ini juga merupakan kolaborasi dengan Ruang SimpaSio, komunitas asal Larantuka yang berfokus pada pengarsipan dan kajian sosial budaya Flores Timur.

“Pojok Baca ini kami adakan seminggu 2 kali, setiap hari Senin dan Rabu. Ternyata kami lihat antusiasme yang sungguh tinggi dari anak-anak. Mereka bahkan datang setiap hari tanpa harus dicari,” ujar Enya Wahon, ketua komunitas Pondok Perubahan.
“Anak-anak sendiri yang berinisiatif ingin mengadakan acara PenTas. Ada yang mau menyanyi, baca puisi, cerita bahasa Inggris, drama dan lain-lain. Jadi semua kami kemas dalam satu kegiatan pentas cerita ini. Ibaratnya, kegiatan ini merupakan perayaan kreativitas dari buku-buku cerita yang mereka baca,” jelas Enya Wahon.
Pertunjukan PesTa diawali dengan permainan tradisonal ‘kesengge’ yang dimainkan antara anak-anak dan penonton orang tua. Kemudian dilanjutkan dengan serangkaian acara berupa penampilan dari para penyanyi cilik yang kisaran masih berusia 5 tahun, pembacaan puisi, storytelling bahasa Inggris, komedi bahasa daerah Ile Ape, dan diakhiri dengan mini drama “Joko Kendil”.
Tak hanya antusiasme anak-anak, para orangtua dari anak-anak yang turut tampil dalam PesTa juga memberikan dukungan berupa jamuan makan malam dari pangan lokal. “Saya senang karena sejak mengikuti program Pojok Baca dan latihan buat PenTas, anak saya Faril (Tukan) jadi jarang main handphone. Saya harap Kak Enya dan teman-teman Pondok Perubahan tetap melestarikan kegiatan agar terus berjalan,” ungkap Chey Bere, ibundanya Faril, salah satu anak yang menampilkan storytelling bahasa Inggris.
PesTa diakhiri dengan sesi diskusi dan sharing bersama psikolog Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Abdi Keraf yang juga hadir sebagai tamu pertunjukan PesTa. Menurutnya, ketika anak-anak membaca, menulis, mewarnai, lalu naik ke panggung, mereka sedang menghubungkan dunia dalam diri dengan dunia luar. “Ini adalah proses integrasi psikologis, dari ide menjadi imajinasi menuju tindakan. Dari perasaan menuju ekspresi,” ujarnya.
Abdy Keraf mengungkapkan bahwa anak-anak harus diberi ruang untuk tumbuh dan berekspresi. Ruang aman yang memungkinkan individu berkembang tanpa takut dihakimi. “Anak-anak tidak hanya belajar menjadi pintar, mereka belajar jadi berarti. Bila dikaitkan dengan kesehatan mental, pada akhirnya kita harus menyadari bahwa kesehatan mental tidak lahir dari kemampuan hebat semata, tetapi dari pengalaman sederhana, didengar, diberi ruang dan dipercaya untuk mencoba,” tandasnya.
Dalam postingan di akun facebooknya, Abdy Keraf menyebut, “Di panggung mini ini, anak-anak sedang berjuang menumbuhkan percaya diri. Pelan, gugup, dalam rasa yang tak pasti, tapi penuh harap. Setiap langkah kecil, setiap suara yang keluar, ekspresi yang terpancar, adalah latihan untuk berkata: saya ada. Saya bisa.”
Di saat yang sama, sambung mantan ketua Ikatan Keluarga Lembata (IKL) di Kupang ini, orang tua sedang belajar satu hal yang tidak kalah sulit, yaitu percaya. “Tapi ini, bukan sekadar percaya bahwa anak bisa tampil, tetapi percaya bahwa anak memang berharga, bahkan sebelum tepuk tangan itu datang, tanda usai pertunjukkan.”
“Di sinilah ruang psikologi itu tercipta. Antara keberanian yang sedang tumbuh, dan cinta yang sedang belajar untuk melepas, pelan, dalam doa dan penuh harap. Karena kadang, yang anak butuhkan bukan panggung yang megah…, tapi mata yang melihatnya dengan yakin. Dan hati yang berani berkata, ‘kamu bisa mengalahkan rasa takutmu’,” tandas Abdy Keraf.
Pada postingan lainnya di akun yang sama, Abdy Keraf memberi judul: “SERI REFLEKSI PSIKOLOGI.
Pondok Perubahan dan Panggung anak-anak…”.
Abdy yang datang ke Lewoleba untuk memfasilitasi kegiatan Pelatihan Konseling bagi Guru SD dan SMP di Kabupaten Lembata yang diselenggarakan oleh Plan International (PIA) di Hotel Palm, tampak sangat mengapresiasi kegiatan anak-anak muda yang tergabung di Komunitas Pondok Perubahan. “Dan sore ini, di sini, saya hadir tidak sekadar menonton pertunjukan, tapi saya sedang menyaksikan proses menjadi. Dan Sungguh, panggung teras rumah ini, mimpi itu diukir, pengalaman kecil dan sederhana itu ditulis, untuk kelak menjadi makna yang luar biasa,” ungkap Abdy Keraf.
Abdy yang sudah malang melintang di panggung pertunjukan teater ini mengakui kalau pikirannya saat menonton, dirinya mencoba menelaah dari perspektif psikologi perkembangan. “Seketika visual dari momen-momen dalam lakon ini, menjelma ruang tempat anak-anak berlatih menyusun dirinya. Ketika mereka duduk berhadapan, berbicara, memainkan peran, sebenarnya mereka sedang menguji satu hal yang sangat mendasar: Apakah suara saya layak didengar?”
Panggung kecil ini menjawabnya, “Ya, layak.”
“Dalam kerangka Maria Montessori, pengalaman seperti ini adalah bentuk belajar yang paling hidup. Anak-anak tidak dipaksa memahami makna, mereka mengalaminya. Dari pengalaman itu, muncul rasa percaya diri, keberanian, dan pelan-pelan… kesadaran diri, dan kesadaran akan lingkungan,” tandasnya.
Dia mengingatkan bahwa anak-anak tidak langsung menjadi percaya diri. “Mereka mencoba percaya diri, berkali-kali, dalam ruang yang aman. Dan Pondok ini tampaknya menyediakan ruang itu,” tegasnya.
“Ketika mereka membaca, menulis, mewarnai, lalu naik ke panggung, mereka sedang menghubungkan dunia dalam diri dengan dunia di luar. Ini adalah proses integrasi psikologis, dari ide menjadi imajinasi menuju tindakan. Dari perasaan menuju ekspresi,” ungkap Abdy Keraf.
“Peran Enya Wahon dan kawan-kawan di sini menarik. Mereka bukan sebagai pusat perhatian, tetapi sebagai penjaga ruang tumbuh. Dalam psikologi, ini disebut holding environment, ruang aman yang memungkinkan individu berkembang tanpa takut dihakimi,” ucap Abdy Keraf.
“Dan mungkin, yang paling penting, di tempat ini, anak-anak tidak hanya belajar “menjadi pintar”… mereka belajar “menjadi berarti” dengan memainkan dan menjaga lakon-lakon mereka dengan konsisten. Bila saya kaitkan dengan kesehatan mental, pada akhirnya kita harus menyadari kesehatan mental tidak lahir dari kemampuan hebat semata, tetapi dari pengalaman sederhana, didengar, diberi ruang, dan dipercaya untuk mencoba. Dan dari panggung kecil itu, mereka mulai percaya, bahwa langkah kecil mereka… benar-benar punya arti,” tandas Abdy Keraf. (Wulan/AN-01)


















