Aksinews.id/Balauring – Rinai gerimis yang membasahi kompleks Masjid Al-Munawwarah Wuaq Ikang, Desa Balauring, Kecamatan Omesuri, Lembata, seolah ikut membersihkan debu hari dan menghadirkan kesyahduan yang tak direncanakan. Dalam suasana yang teduh itu, Bupati Lembata, Petrus Kanisius Tuaq, SP, bersama Wakil Bupati H. Muhamad Nasir, S.Sos, melangkah memasuki masjid untuk melaksanakan Safari Ramadhan, Jumat ( 27/2/2026).
Hujan yang mengguyur tidak menyurutkan langkah jamaah yang sedang menjalankan ibadah puasa untuk datang ke rumah ibadahnya. Justru ia menjadi latar yang menenangkan seperti doa yang turun dari langit. Payung-payung terbuka, sandal-sandal basah berjajar di pelataran, dan wajah-wajah penuh harap tetap bersinar di bawah cahaya lampu masjid.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh anggota DPRD Lembata, Sekretaris DPRD (Sekwan), Camat Omesuri, Danramil Balauring, Kapolsek Balauring, Kepala Desa Balauring, Sekretaris Badan Kesbangpol, Sekretaris Dinas Perpustakaan, Kabag Pembangunan Setda Lembata, Ketua TP PKK Kabupaten Lembata, Ursula S. Bayo, Ketua TP PKK Kecamatan Omesuri, Ketua MUI Lembata, Ketua PC NU Lembata, para tokoh masyarakat, tokoh agama, Majelis Taqlim Omesuri, serta pengurus Masjid Al-Munawwarah.
Dalam kesempatan tersebut, Pengurus Masjid menceritakan sejarah dan perkembangan masjid ini pada tahun 1995, berangkat dari kebutuhan sederhana masyarakat untuk memiliki tempat ibadah yang lebih dekat dan memungkinkan pelaksanaan shalat berjamaah secara lebih khusyuk.
Awalnya, jamaah melaksanakan shalat berjamaah di salah satu rumah warga selama satu musim. Dari kebersamaan itulah muncul tekad untuk membangun masjid sendiri. Proses perizinan dan koordinasi dengan berbagai pihak dilakukan secara bertahap, termasuk meminta restu dari pengurus masjid besar saat itu. Niat baik tersebut diterima, dan Masjid Al-Munawwarah pun berdiri sebagai wujud kemandirian dan semangat gotong royong masyarakat.
Seiring waktu, jamaah terus bertambah. Meski bangunan masih sederhana, masjid ini memiliki lahan yang cukup luas sebagai ruang pengembangan di masa depan. Namun, keterbatasan ekonomi jamaah yang mayoritas berprofesi sebagai petani membuat proses pembangunan berjalan secara bertahap.
Pengurus masjid menyampaikan harapan agar Pemerintah Daerah dapat memberikan perhatian dan dukungan, sehingga masjid ini dapat berkembang menjadi tempat ibadah yang lebih layak dan nyaman, tidak hanya untuk hari ini, tetapi juga bagi generasi mendatang.
Menanggapi hal itu, Bupati Kanis dalam sambutannya menyampaikan pesan kebersamaan dan komitmen pemerintah. Bupati Kanis mengajak seluruh masyarakat untuk bersyukur atas kesempatan menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan. Ia menegaskan bahwa Ramadhan merupakan momentum untuk memperkuat iman, ketakwaan, serta mempererat persaudaraan.

Bupati Kanis juga menyampaikan bahwa pada bulan Februari ini genap satu tahun masa kepemimpinannya bersama Wakil Bupati. Ia mengakui bahwa perjalanan satu tahun pemerintahan tidak lepas dari berbagai dinamika dan tantangan. Namun, seluruh proses tersebut dilalui dengan semangat kebersamaan dan komitmen untuk terus bekerja bagi masyarakat.
Momentum Ramadhan tahun ini dinilai istimewa karena beriringan dengan masa Prapaskah umat Kristiani. Dua momentum spiritual tersebut menjadi simbol kuat toleransi dan harmoni yang harus terus dijaga di Kabupaten Lembata.
Lebih lanjut, Bupati Kanis menyadari masih terdapat berbagai harapan masyarakat yang belum sepenuhnya terjawab, termasuk kebutuhan rumah ibadah dan aspirasi pembangunan lainnya. Seluruh masukan yang disampaikan akan menjadi perhatian dan dicatat sebagai bagian dari perencanaan pembangunan yang berkelanjutan dan terarah.
Safari Ramadhan ini menjadi ruang silaturahmi antara pemerintah dan masyarakat, sekaligus memperkuat komitmen untuk membangun Lembata yang religius, toleran, dan berorientasi pada kepentingan bersama.
Di akhir kata, Bupati Kanis menyampaikan ucapan selamat menjalankan ibadah puasa kepada seluruh umat Muslim. Ia berharap Ramadhan menjadi sarana pembentukan karakter, melatih kesabaran, pengendalian diri, serta ketaatan, sehingga setiap pribadi dapat keluar dari bulan suci ini dalam keadaan yang lebih baik dan lebih bermanfaat bagi sesama.
Malam itu, di Balauring, rintik hujan dan lantunan doa menyatu. Langit menurunkan air, bumi menumbuhkan harapan. Dan di antara keduanya, manusia belajar merawat iman serta menjaga toleransi sebagai warisan paling berharga bagi Lembata. (ProkompimPemKabLembata)

























