Oleh : Yohanes Mamun, S.Pd. M.Pd.
Kordinator Pengawas SMA/SMK/SLB Kab. Lembata
Dunia pendidikan dan kemanusiaan Indonesia baru saja dikejutkan oleh sebuah kabar memilukan dari Dusun Sawasina, Desa Naruwolo, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Seorang anak berusia 10 tahun, siswa kelas IV sekolah dasar berinisial YBS, ditemukan tewas gantung diri pada akhir Januari 2026. Ia tidak pergi dalam diam; ia meninggalkan sepucuk surat dalam bahasa daerah Ngada untuk ibunya, sebuah surat yang kini menjadi saksi bisu atas keputusasaan yang melampaui usianya.
Peristiwa ini bermula dari hal yang bagi banyak orang tampak sepele: permintaan uang untuk membeli buku tulis dan pena. Karena keterbatasan ekonomi, sang ibu tidak mampu memenuhi permintaan tersebut. Dalam suratnya, YBS mengungkapkan rasa kecewanya dengan menyebut ibunya “pelit”, namun di saat yang sama ia meminta sang ibu untuk mengikhlaskannya dan tidak menangis. Tragedi ini bukan sekadar kasus kriminal atau kesehatan mental individual, melainkan sebuah manifestasi dari luka sosial yang mendalam di wilayah Nusa Tenggara Timur.
Fenomena Kemiskinan Ekstrem dan Akses Pendidikan
Di balik tindakan tragis YBS, terdapat bayang-bayang kemiskinan ekstrem yang masih menghantui banyak keluarga di NTT. Bagi keluarga yang berjuang hanya untuk sekadar makan, biaya pendukung pendidikan seperti buku dan alat tulis bisa menjadi beban yang menyesakkan. Ketika seorang anak merasa bahwa kebutuhan dasarnya untuk bersekolah menjadi beban bagi orang tuanya, muncul rasa ketidakberdayaan yang fatal. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan pendidikan gratis seringkali belum menyentuh kebutuhan-kebutuhan “kecil” namun krusial yang menentukan keberlanjutan sekolah seorang anak.
Krisis Kesehatan Mental dan Resiliensi Anak
Secara psikologis, kejadian ini menyingkap tabir betapa rapuhnya resiliensi atau daya tahan mental anak-anak yang tumbuh dalam tekanan ekonomi. Di NTT, fenomena bunuh diri bukanlah hal yang baru; data menunjukkan angka yang cukup mengkhawatirkan dalam beberapa tahun terakhir. Namun, ketika korbannya adalah seorang anak SD, ini menjadi alarm keras. Anak-anak di daerah terpencil seringkali tidak memiliki ruang aman untuk mengekspresikan emosi atau mendapatkan layanan kesehatan mental. Stigma terhadap masalah kejiwaan dan terbatasnya tenaga psikolog di pelosok NTT membuat depresi pada anak sering kali tidak terdeteksi hingga semuanya terlambat.
Konteks Budaya dan Sosial di NTT
Dalam konteks masyarakat NTT, ikatan kekeluargaan dan peran ibu sangatlah sentral. Surat YBS yang ditulis dalam bahasa daerah menunjukkan pergolakan batin yang sangat personal. Ada campuran antara rasa marah (menyebut ibunya pelit) dan kasih sayang yang mendalam (meminta ibunya tidak menangis). Secara sosiologis, tekanan untuk berhasil atau setidaknya “bertahan” di tengah lingkungan yang keras secara ekonomi dapat menciptakan beban mental yang berat. Fenomena ini juga sering dikaitkan dengan istilah “bunuh diri fatalistik” dalam teori sosiologi, di mana individu merasa masa depannya tertutup oleh nilai-nilai atau keadaan sosial yang menindas tanpa ada jalan keluar.
Tragedi di Ngada adalah “tamparan” bagi negara dan masyarakat. Ia membuktikan bahwa kehadiran negara dalam menjamin hak dasar anak—baik pendidikan maupun perlindungan sosial—masih memiliki celah yang mematikan. Kita tidak boleh hanya melihat ini sebagai urusan satu keluarga, melainkan sebagai kegagalan sistemik dalam melindungi warga yang paling rentan.
Kematian YBS harus menjadi titik balik bagi Pemerintah Provinsi NTT dan pemerintah pusat untuk tidak hanya mengejar angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan bahwa tidak ada lagi anak yang harus memilih maut hanya karena sebatang pena dan selembar buku tulis. Perlindungan anak harus dimulai dari pemenuhan hak paling dasar: rasa aman, kecukupan gizi, dan kepastian bahwa kemiskinan tidak akan pernah menjadi alasan bagi seorang anak untuk menyerah pada hidup. (*)























