Aksinews.id/Lewoleba – Ini salah satu cara Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) melalui Program Implementasi Area Lembata dalam merespons tingginya angka perundungan dan kekerasan di sekolah. Plan Indonesia berupaya meningkatkan kapasistas guru Bimbingan dan Konseling (BK) sekolah-sekolah di Lembata.
Pelatihan Konseling untuk Guru-Guru BK di kabupaten Lembata digelar selama tiga hari sejak 26-28 Februari 2026, di Lewoleba.
Pelatihan ini merupakan respons terhadap tingginya angka perundungan dan kekerasan di sekolah. Survei karakter nasional yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2021 menunjukkan adanya 24,4 persen potensi perundungan di lingkungan pendidikan.
Selain itu, data Komisi Perlindungan Anak Indonesia mencatat sedikitnya 25 kasus bunuh diri anak sepanjang 2025 yang sebagian diduga berkaitan dengan perundungan. Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan kapasitas guru dalam memberikan dukungan psikososial kepada siswa.
Sebanyak 24 guru yang mengikuti pelatihan ini sebagai bagian dari penguatan kapasitas layanan konseling di sekolah masing-masing. Mereka berasal dari enam satuan pendidikan di Kabupaten Lembata, yakni SDI Molelema, SDK Meluwiting, SD Bareng, MTs Normal, SMPS Sudi Mampir, dan SMPN 7 Maret.
Selama tiga hari, peserta memperoleh materi komprehensif meliputi dasar kesehatan mental anak dan remaja, prinsip dan etika konseling, serta keterampilan inti konseling seperti attending, empati, teknik bertanya refleksi, pemecahan masalah, hingga teknik mengakhiri sesi konseling. Proses pembelajaran dirancang aplikatif melalui kombinasi presentasi, diskusi, simulasi, dan role-play terpadu.
Fasilitator pelatihan, Abdy Keraf, S.Psi., M.Si., M.Psi., Psikolog, menegaskan bahwa kehadiran guru dengan keterampilan konseling yang memadai dapat menjadi faktor protektif yang signifikan bagi siswa.
“Guru bukan hanya pengajar materi akademik, tetapi juga figur pendamping yang berperan dalam menjaga kesehatan mental siswa. Dengan keterampilan mendengar aktif, empati, dan teknik konseling yang tepat, guru dapat menjadi ruang aman bagi anak untuk bercerita serta membantu mereka menemukan solusi secara konstruktif,” ujar Abdi Keraf.
Sementara itu, OIC PIA Manager Lembata-Plan Indonesia, Kornelis Sabon Ola, menyampaikan, “Sekolah adalah rumah kedua bagi anak, sehingga sekolah harus menjadi tempat yang membuat anak merasa terlindungi dan dihargai. Melalui pelatihan ini, kami berharap guru khususnya guru BP bisa lebih mengenali tanda-tanda tekanan psikologis sejak dini dan memberikan pendampingan yang tepat. Ini adalah salah satu upaya dari kami untuk turut serta mencegah kekerasan dan memperkuat sistem perlindungan anak di sekolah”.
Salah satu peserta, Magdalena Perada dari SDK Meluwiting, menyampaikan bahwa pelatihan ini memperkaya cara pandangnya dalam mendampingi siswa.
“Saya sangat bersyukur mengikuti pelatihan ini karena membuka pemahaman saya tentang bagaimana membimbing dan menasihati anak dengan pendekatan yang lebih empatik. Saya belajar bahwa anak perlu didengar tanpa dihakimi agar mereka tidak merasa tertekan. Keterampilan ini membantu saya mendampingi siswa sehingga mereka tidak menanggung beban mental sendirian,” tuturnya.
Melalui kegiatan ini, Plan Indonesia berharap para guru mampu menjalankan peran sebagai konselor sekolah secara lebih profesional, membantu siswa mengenali potensi diri, mengambil keputusan secara bijak dan bertanggung jawab, serta membangun lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan mendukung kesehatan mental anak secara berkelanjutan. (Alfred Ike Wurin – Plan Indonesia/AN-01)

























