Oleh Arnoldus Janssen Ledo
Ilusi Oksigen di Panggung Politik
Pada perayaan HUT ke-67 Provinsi NTT, Desember 2025 lalu, masyarakat kita mendapatkan sebuah “kado intelektual” yang cukup mengkerutkan dahi. Dalam sebuah diskusi publik di kota Kupang, bapak Viktor Laiskodat memberikan orasi yang cukup provokatif. Beliau menegaskan bahwa sebutan hutan sebagai paru-paru dunia adalah pernyataan yang keliru. Juaranya adalah laut, lewat plankton dan alganya. Bahkan juga terselip logika yang cukup menggelitik: makin banyak es kutub mencair dan meluasnya laut, berpengaruh pada limpahnya oksigen. Pernyataan ini mengandung optimisme berlimpah, namun saya justru didera kebingungan: Sejak kapan tugas utama seorang pejabat publik beralih menjadi guru biologi dadakan yang menawarkan teori ‘penyejuk hati’ di tengah gerahnya krisis iklim? Dan yang lebih penting, apakah benar paru-paru bumi sedang baik-baik saja hanya karena laut kita masih luas?
Sebagai mahasiswa yang masih rutin menyetor dahi di meja kuliah, saya sempat termenung mendengar “kuliah umum” dari panggung politik tersebut. Secara teknis, bapak Viktor tidak sepenuhnya keliru soal kehebatan fitoplankton—mereka memang pahlawan oksigen yang sunyi di kedalaman Samudra dan luasnya lautan. Namun, menyimpulkan bahwa mencairnya es kutub adalah berkah oksigen, ibarat pasca sarjana dengan gaji di bawah UMR merasa makin kaya hanya karena ukuran dompetnya makin luas. Benar ukuran dompetnya luas tapi daya belinya tentu saja hangus. Berbagai literatur ekologi global menegaskan bahwa kenaikan suhu global yang mencairkan es kutub justru memicu pengasaman laut (ocean acidification). Kondisi ini bukan membuat plankton berpesta, melainkan mati massal. Jadi laut boleh makin lebar, tapi ‘pabrik’ oksigennya malah terbakar. Di sinilah letak Reduksi Kerangka Berpikir itu: Pak Viktor menawarkan ‘kulit’ sains tanpa isinya, sebuah kemasan intelektual yang terlihat mewah namun isinya justru menormalisasi bencana.
Membedah Sesat Pikir dan Reduksi Nalar
Kita tidak sedang mencari siapa yang paling benar antara hutan dan laut di buku biologi. Persoalan sesungguhnya Adalah ketika penguasa menggunakan sains setengah matang untuk membius kritik masyarakat dan memuaskan dahaga solusi konstruktif krisis lingkungan. Ini bukan soal plankton, ini soal bagaimana pemerintah ‘mencuci tangan’ dari tanggung jawab perlindungan hutan dengan mengalihkan pandangan ke luasnya lautan.
Namun, hal yang jauh lebih mengkhawatirkan daripada salah kutip teori biologi adalah gejala reduksi kerangka berpikir dalam komunikasi pemerintah kita. Kita seperti melihat tren di mana kritik sosial-ekologi masyarakat bukan lagi diterima sebagai masukan kebijakan, melainkan dianggap sebagai serangan ‘udara’ yang harus segera dibalas dengan narasi tandingan atau antithesis. Kita tentu belum lupa bagaimana narasi ‘Indonesia Gelap’ dipaksa bungkam oleh kampanye ‘Indonesia Cerah’. Kini, kritik terhadap gundulnya hutan dibalas dengan ‘Kuliah Plankton’.
Menagih Solusi Bukan Narasi
Poin penting yang harus kita pegang adalah bahwa rakyat sama sekali tidak butuh orator ‘pemenang debat’ di podium atau media sosial. Memberi pemahaman sains atau sosialisasi fakta ilmiah biarlah menjadi tugas utama institusi Pendidikan, tugas dosen di kampus, dan guru di sekolah yang gajinya kian hari terkikis seperti abrasi pantai penghasil oksigen. Tugas pemerintah itu konkret: membalas kritik dengan mediasi dan kebijakan yang berpihak pada kelestarian. Ketika penguasa lebih sibuk memoles diksi daripada memulihkan ekosistem, kita sebenarnya sedang menonton upaya halus normalisasi kerusakan dengan bungkusan retorika yang terdengar indah.
Bagi kita di bumi FLOBAMORA, perdebatan soal siapa penyumbang oksigen nomor satu dunia, terasa sangat mewah sekaligus ironis. Sebab bagi masyarakat di pelosok Timor, Flores, hingga Sumba, hutan bukan sekedar deretan angka dalam jurnal ilmiah. Hutan adalah ‘Ina’ yang menjaga rahim mata air. Ketika hutan dibabat atas nama pembangunan atau diabaikan sebagai “orang ketiga”, tidak ada plankton di laut manapun yang bisa mengalirkan air minum ke sumur-sumur rakyat yang kekeringan. Pengalaman pahit Badai Seroja seharusnya sudah cukup menjadi guru yang kejam bahwa alam tidak butuh narasi tandingan; alam butuh perlindungan nyata.
Dari Rahim Hutan ke Pertobatan Kebijakan
Pemerintah saat ini mestinya sadar bahwa pertobatan ekologis adalah sesuatu yang mutlak. Ia tidak bisa dimulai dari retorika yang menyesatkan, melainkan dari keberanian mengakui bahwa kebijakan kita sedang tidak baik-baik saja. Menjawab dahaga kritik masyarakat dengan solusi konstruktif, penegakan hukum bagi pembalak, restorasi hutan yang jujur, serta mediasi yang menghargai nalar publik adalah keharusan.
Kita tidak butuh pemimpin yang sibuk mengajari cara bernapas di tengah hutan yang gundul. Kita butuh pemimpin yang memastikan bahwa napas itu tetap ada untuk alam di masa depan. Sudah saatnya berhenti berbalas pantun narasi. Pada akhirnya oksigen sebanyak apapun tidak akan berguna jika kita sudah tenggelam dalam keangkuhan logika sendiri.
Penutup
Pada akhirnya, publik tidak sedang menanti siapa yang akan memenangkan mendali emas dalam olimpiade debat biologi, tentang apa yang paling menghasilkan oksigen. Kita hanya sedang menagih kejujuran. Narasi bahwa laut akan menyelamatkan kita saat hutan luluh lantak bukan hanya sesat secara sains, tetapi juga cacat secara moral.
Tugas pemerintah sebagai pemangku kebijakan bukan memoles kerusakan dengan diksi-diksi yang menyenangkan, tapi mengambil langkah berani untuk “bertobat”. Kita butuh solusi dan aksi, bukan narasi. Jika pemerintah selalu bersembunyi di balik retorika ‘plankton’ saat bumi sedang terbakar, maka kita akan bergerak menuju titik yang pasti: sebuah masa di mana oksigen melimpah di udara, namun kita sudah mati karena kehilangan nalar dan sumber kehidupan di tanah sendiri.
Sudah saatnya kita bertransformasi dari sekadar bertanding narasi menuju pertobatan kebijakan yang nyata. Sebab bagi generasi kami, oksigen terbaik adalah kebijakan yang jujur dan lingkungan yang tetap terjaga, dengan pemangku kebijakan yang cukup rendah hati untuk mengakui kerusakan dan cukup berani untuk memperbaikinya. (*)
Penulis: Arnoldus Janssen Ledo Peurapeq adalah pemuda asal Kabupaten Lembata, NTT, yang kini menempuh pendidikan Semester 6 di Program Studi Sastra Inggris, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Menaruh minat pada kepenulisan serta analisis wacana kritis terhadap dinamika sosial dan kelestarian lingkungan sejak duduk di bangku Seminari Menengah San Dominggo Hokeng. Dia juga aktif sebagai jurnalis dan menjadi ketua Unit Kegiatan Program Studi (UKPS) INTEGRITY yang bergerak di bidang jurnalisme dan kepenulisan bahasa Inggris untuk jurusan Sastra Inggris Universitas Sanata Dharma. Dapat dihubungi melalui arnoldusjnssn07@gmail.com.























