Puisi ini dibawakan sendiri oleh penulisnya, Monika ‘Arundhati’ Liman, saat “Voice for Human Rights” di Aula Paroki Kristus Raja Wangatoa, Rabu (10/12/2025).

Tanah tidak bisa berteriak …
Air tidak bisa mengadu…
Batu… tidak bisa membuat laporan pelanggaran HAM
Maka manusia melakukannya…
Atau seharusnya melakukannya…
Tetapi anehnya, ketika tanah mulai panas oleh pengeboran…
Ketika air mulai keruh oleh getaran mesin…
Ketika kampung mulai retak dibuat oleh keputusan yang dibuat jauh di kota, manusia yang tinggal di atasnya justru diam, dibungkam, demi apa?
Demi masa depan energi
Demi pembangunan, katanya…
Katanya… katanya…

Kata-kata yang terdengar suci yang membuat siapa pun bertanya, langsung dicap penghambat kemajuan, antisains, antinegara, antisegalanya…
Padahal, yang mereka tanyakan sederhana..
Apakah kami punya hak untuk tidak kehilangan rumah kami…
Apakah kami punya hak untuk merasa aman di tanah kelahiran kami …
Apakah HAM berhenti ketika berhadapan dengan investasi besar…
Kita, kita diajarkan bahwa bumi adalah ibu…
Tetapi, dalam rapat-rapat proyek, ibu itu diperlakukan seperti lahan kosong, siap ditusuk berkali-kali demi angka di laporan tahunan…
Dan ketika warga Lembata bersuara…
Ketika mereka meminta waktu kejelasan, penjelasan, perlindungan, kita sering melihat betapa cepatnya suara mereka dipatahkan…
Sejak kapan, bertanya menjadi tindakan subversif?
Sejak kapan khawatir menjadi ancaman? Sejak kapan rakyat kecil membuktikan bahwa mereka juga manusia…
Geothermal bukan setan..
Energi terbarukan bukan musuh…
Tetapi, yang menjadi masalah pembangunan yang dibungkus kebaikan tetapi dikerjakan dengan cara yang mengabaikan manusia, sama dengan kekerasan struktural yang dibungkus dengan senyuman..
Jika HAM benar-benar hidup hari ini, ia tidak akan berada di panggung, tidak akan di spanduk atau di baliho peringatan… ia akan berdiri di tengah kampung memandang pegunungan Atadei dan bertanya: Apakah suara kalian didengar atau hanya dicatat untuk formalitas?

HAM, tentu bukan slogan…
HAM adalah keberanian untuk menghentikan proyek jika itu berarti menyelamatkan hak hidup orang kecil…
Ia adalah keberanian untuk menolak meski seluruh dunia mengatakan: ini demi masa depan…
Karena masa depan tanpa kemanusiaan, bukanlah masa depan. Itu hanya mesin yang berdiri di atas kuburan panjang atas suara-suara yang dibungkam
Hari ini, ketika kita memperingati hari HAM Internasional, biarkanlah satu hal ini menggema.
Jika pembangunan membuat manusia kehilangan tanah, kehilangan suara, kehilangan martabat, maka itu bukan pembangunan… itu penggusuran yang disucikan…
Dan kita, berhak untuk menolaknya…
Mari kawan-kawan, kita wajib menolaknya… karena HAM tidak pernah tunduk pada mesin sebesar apa pun…
“Panjang umur perjuangan”
























