Kritis & Terpercaya
Beli Tema IniIndeks
banner 728x250

Puisi dari Nagoya – Jepang untuk Mengenang Almarhum Prof. Dr. Gorys Keraf

banner 120x600
banner 468x60

Seorang misionaris Katolik di Nagoya, Jepang, Pater Yoseph Bruno Dasion SVD menulis puisi khusus untuk dibacakan dalam seminar Bulan Bahasa di Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Maklum, seminar ini bertajuk: Menelisik Peran Prof. Dr. Gorys Keraf dalam Perkembangan Pengajaran Bahasa di Indonesia.

Penulis memang satu kampung dengan almarhum Prof. Dr. Gregorius Keraf atau lebih dikenal dengan nama Dr. Gorys Keraf. Keduanya sama-sama kelahiran Desa Lamalera, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ya, Gorys Keraf lahir pada 17 November 1936. Ia seorang ahli bahasa ternama Indonesia dan salah seorang dosen Universitas Indonesia.

banner 325x300

Gorys menuntaskan pendidikan SMP di Seminari San Dominggo Hokeng pada tahun 1954. Dia melanjutkan ke SMA Syuradikara di Ende pada tahun 1958. Dan, tahun 1964 ia menamatkan Jurusan Sastra Indonesia, di Universitas Indonesia (UI). Gelar Doktor dalam bidang Linguistik diraih dari Universitas Indonesia pada tahun 1978, dengan disertasi Morfologi Dialek Lamalera.

Pada tahun 1962-1965, ia pernah mengajar di SMA Syuradikara. Juga, mengajar di SMA Santa Ursula Ende dan SMA Santa Theresia Ende pada tahun 1964. Ia menjadi Dosen Unika Atmajaya Jakarta pada tahun 1967. Kemudian ia mengajar di Perguruan Tinggi Kepolisian, dan Jakarta Academy Of Languages Jakarta pada tahun 1971. Ia menjadi pengajar tetap di Fakultas Sastra UI sejak tahun 1963.

Selain itu, ia mejadi koordinator Mata Kuliah Bahasa Indonesia dan Retorika di Fakultas Hukum dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UI.

Setelah meninggal dunia di Jakarta, 30 Agustus 1997, nama Prof. Dr. Gorys Keraf praktis tak lagi terdengar. Namun buku-buku karyanya masih tetap dibaca, terutama yang menekuni cabang ilmu Linguistik, sastra dan bahasa.

Tanggal 20 Oktober 2022, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Lembata berkolaborasi dengan Komunitas Literasi Lembata (IGI, Agupena, Pondok Perubahan, Moting Maung dan Jurnalis Lembata) menggelar seminar untuk membicarakan kembali sosol Prof. Dr. Gorys Keraf. Untuk seminar inilah, Pater Bruno menuliskan puisinya. Berikut petikan lengkapnya:

GREGORIUS PRAFFI KERAF

Untuk apakah HARI INI?

bagi kami semua yang jejakkan kaki di pulau ini

di Tanah bernamakan LEMBATA?

Pergimu telah lama

seolah tak tersimpan lagi

dalam garba kenangan dan ingatan kami

namun diri-mu yang terlahir dari Rahim LAMALERA,

KAMPUNG MATAHARI,

memang tak bisa disekap dalam keterlupaan,

kembali terbit di langit sejarah Kabupaten Pulau ini

dengan benderang kebijaksanaan dan kecerdasan

yang tak pernah luntur di dalam gerit deraan waktu.

Dirimu

Adalah sebutir gandum yang ditabur;

kini menghilang,

namun akar yang telah kau tumbuhkan tak pernah tercerabut,

daun-daunmu tak kenal musim gugur,

mekarmu sepanjang musim

dan buah-buahmu selalu bernas tak kenal waktu.

Hari ini,

kami menyambutmu kembali,

sambil gegap berteriak: PAHLAWAN! PAHLAWAN! PAHLAWAN!

Kami mendengar kembali gema bahana doa-mu:

“AD MAIOREM DEI GLORIAM!” [MAIOREM dibaca MAYOREM]

Itulah prinsip hidup-mu

itulah tujuan seluruh tugas dan

pekerjaan akademik-mu.

Itulah kesejatianmu sebagai Orang Pintar,

Itulah tanggujawabmu sebagai seorang Intelektual.

Hidup bukan untuk memuliakan diri,

bekerja bukan untuk menimbun uang dan ketamakan

semuanya hanyalah untuk

menyadari kerendahan hati dan ketulusan jiwa

di hadapan Kemuliaan Allah.

Membawa-mu kembali dalam ingatan

adalah tanggujawab kami,

sebab hidup dan karyamu

membakar harap dan percaya diri kami semua

bahwa LEMBATA atau pulau-pulau kecil lainnya

yang tersebar di seantero Nusantara

boleh menjadi yang terkecil

seturut takaran angka timbangan

tetapi manusia yang lahir darinya

adalah yang bermartabat, berpengetahuan luas, kokoh tanggungjawabnya,

dan kaya kebijaksanaan.

Dalam takaran ekonomis

orang Lembata dan orang-orang di pulau-pulau kecil lainnya

boleh dianggap terbatas dan miskin,

tetapi dalam takaran kepandaian,

mereka juga memiliki kedahsyatan berfikir

yang dapat mengubah Nusantara dan Dunia

menjadi lebih baik dan manusiawi.

Merayakan kehadiranmu

adalah sebuah pencerahan,

mengingatkan kami untuk tetap merengkuh cita-cita

agar boleh terbang tinggi

mencapai yang dikira tak tergapai,

sebab cita-cita

adalah juga sealir sungai yang dapat mengubah

padang gurun menjadi Eden kebahagiaan.

Merayakan kehadiranmu

membangunkan kami dari tidur kemalasan,

memandang jauh ke batas-batas lautan

mencoba melangkahkan kaki ke depan

agar jalan yang tak pernah ada

bisa terbuka,

sebab yang dicari, akan ditemukan

kalau kami tak malas menerobos lebih jauh dan dalam

dengan percaya teguh pada diri sendiri.

Mazmur peninggalan Nenek-Moyang Lamalera:

“Ama Gennâ Ola, Ola Kaé ka todé tai”

(Nenek moyang meninggalkan legasi budaya, budaya itu harus kita hidupi)

Dirimu menekuni budaya Lamalera

mematrikannya ke dalam “Morfologi Dialek Lamalera”

Disertasi Doktral yang engkau sajikan

pada Rabu, 22 Pebruari 1978

di hadapan Prof. Dr. Mahar Mardjono,

Prof Dr. Amran Halim,

Prof Dr. J.W.M. Verhaar

Dr. E.K.M. Masinambouw

Ini juga sebuah Mazmur bagi kami,

jadi méménto (awasan) bagi siapa saja,

bahwa pengetahuan dan kebijaksanaan

selalu berawal dari kampung halaman,

berakar pada kebudayaan sendiri.

Ketekunan mencintai dan mengolah budaya sendiri

menjadikan seorang manusia lebih terbuka

kepada yang lain,

menjadikan seorang ilmuwan

BAVALOVE (Gerbang) pertemuan semua bangsa dan budaya.

Semoga kami menjadi manusia pencinta budaya sendiri,

sambil bersikap terbuka untuk belajar dari budaya lainnya.

Kami belajar dari-mu, Gregorius Praffi Keraf,

Ilmu adalah santapan

yang harus disajikan dengan sukacita

di atas meja makan kebersamaan manusia.

Ilmu itu berdaulat dan bebas

yang harus menjadi hak semua orang.

Tugas ilmuwan dan intelektual

membagikan roti dan ikan pengetahuan

tak boleh dihempang oleh batas-batas agama, ras dan budaya.

Ilmuwan dan Intelektual

tak boleh takut berkorban karena mau membela kedudukan dan privilese.

Ilmuwan adalah pribadi yang bebas, se-bebas angin,

berhembus ke mana ia mau, dan selalu mengajar

segala yang Baik, Indah dan Benar.

Ilmuwan, selalu rendah hati.

Hari ini, Di hari ini,

kami tahu

Engkau masih hidup, dan,

akan selalu hidup

di dalam hati kami semua.

Rabu, 19 Oktober 2022

Yoseph Bruno Dasion SVD

Nagoya – Jepang

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *