Kritis & Terpercaya
Beli Tema IniIndeks
banner 728x250

Plan Indonesia dan FJL Luncurkan Buku Saku Panduan Peliputan Berbasis Perlindungan Anak, Eman Krova: Saya Kaget FJL Berani Ambil Langkah Ini !

banner 120x600
banner 468x60

Aksinews.id/Lewoleba – Plan Indonesia bersama Forum Jurnalis Lembata (FJL) secara resmi meluncurkan “Buku Saku Panduan Peliputan Anak Berbasis Perlindungan Anak” bertempat di Hotel Olimpic, Lewoleba, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Selasa (16/6). Kolaborasi strategis ini hadir sebagai langkah nyata dalam mendorong pemenuhan hak dan memperkuat sistem perlindungan anak melalui produk jurnalistik yang etis dan aman.

Penyusunan buku saku ini dilatarbelakangi oleh pentingnya peran media massa sebagai pilar demokrasi sekaligus agen edukasi yang memiliki pengaruh besar dalam membentuk opini publik.

banner 325x300

Angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, saat ini dinilai berada dalam kondisi darurat dan cenderung mengalami peningkatan. Data dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PPA) Kabupaten Lembata sebagaimana  dilaporkan kepada Media Indonesia, rasio kasus selama tiga tahun terakhir menunjukkan fluktuasi yang mengkhawatirkan. Tahun 2023 tercatat sebanyak 111 kasus, kemudian sempat menurun menjadi 63 kasus pada tahun 2024, namun hingga September 2025 angkanya sudah menyentuh 61 kasus. Jumlah tersebut diprediksi akan terus bertambah hingga akhir tahun 2025, belum lagi memperhitungkan banyaknya kasus serupa yang sengaja didiamkan atau tidak dilaporkan di berbagai tingkatan masyarakat.

Oleh karena itu, melalui buku panduan ini, insan media di Lembata diharapkan dapat menyajikan pemberitaan yang sensitif terhadap hak-hak anak, serta menghindari eksploitasi atau dampak psikologis sekunder yang berpotensi merugikan anak yang berhadapan dengan hukum maupun yang menjadi korban kekerasan.

Acara peluncuran Buku Saku Panduan Peliputan Anak Berbasis Perlindungan Anak dihadiri dan didukung penuh oleh organisasi masyarakat sipil (OMS), pemerhati anak, insan media, serta perwakilan anak dan kaum muda. Selain seremoni peluncuran, kegiatan ini juga diisi dengan ruang diskusi untuk membedah isi buku saku serta merumuskan komitmen kolaborasi berkelanjutan demi menciptakan lingkungan Kabupaten Layak Anak (KLA) yang aman dan inklusif.

“Peluncuran buku saku ini merupakan tonggak penting dalam kerja-kerja perlindungan anak di Lembata. Kami menyadari bahwa media memiliki kekuatan luar biasa untuk mengedukasi publik sekaligus mengawal kebijakan. Dengan adanya panduan praktis ini, kami berharap rekan-rekan media dapat terus memproduksi karya jurnalistik yang tidak hanya informatif, tetapi juga menempatkan keselamatan, kerahasiaan, dan kepentingan terbaik bagi anak sebagai prioritas utama. Ini adalah kerja bersama untuk memastikan anak-anak kita tumbuh di lingkungan yang aman, termasuk di ruang siber dan media massa,” ujar PIA Lembata Manager Plan Indonesia, diwakili oleh Team Leader PIA Lembata, Hermanus Ama Lawe.

Ketua Forum Jurnalis Lembata (FJL), Alexander Taum, menambahkan pihaknya menyambut baik dan bangga atas rampungnya kolaborasi penyusunan buku saku ini.

“Bagi kami, jurnalisme yang ramah anak bukan berarti membatasi ruang gerak pers, melainkan sebuah bentuk kepatuhan etis dan tanggung jawab sosial. Buku saku ini akan menjadi kompas bagi kawan-kawan jurnalis di lapangan agar tetap tajam dalam mengabarkan fakta, namun tetap lembut dan protektif saat berhadapan dengan subjek anak. Kami berkomitmen untuk terus mengawal implementasi panduan ini dalam kerja-kerja jurnalistik harian kami.” jelasnya.

Alexander juga menambahkan buku saku hasil kemitraan strategis antara Plan Indonesia dan Forum Jurnalis Lembata ini akan digunakan oleh forum jurnalis di lembata, serta didiseminasikan secara bertahap kepada anak-anak dan komunitas terkait di Lembata.

Reno (18), Ketua Youth Advisory Panel Plan Indonesia di Lembata, mengaku bangga karena kaum muda diberikan ruang untuk mengawal proses penyusunan hingga peluncuran buku saku peliputan ramah anak. Menurutnya, keterlibatan aktif ini memberikan banyak wawasan baru mengenai pentingnya perlindungan anak dalam pemberitaan media.

“Terciptanya buku saku ini merupakan tindakan nyata untuk melindungi dan memberikan rasa nyaman kepada anak dalam proses peliputan. Desainnya menarik dan poin-poin di dalamnya sangat jelas sehingga mudah dipahami,” ujar Reno.

Ia juga menegaskan bahwa kehadiran buku saku ini harus berdampak jangka panjang dan tidak sekadar menjadi simbol di atas kertas.

“Harapan saya, dibutuhkan komitmen riil dalam pelaksanaannya di lapangan agar kami sebagai konsumen berita juga bisa percaya. Semoga dengan adanya buku ini, semakin banyak anak yang terlindungi dan merasa nyaman saat berhadapan dengan media,” pungkasnya.

Mengomentari lahirnya buku saku ini, Sekretaris Aliansi anti Kekerasan (Aldiras) Lembata, Elias Keluli Making mengingatkan bahwa media mainstream memiliki peran penting sebagai penjaga moral bahasa masyarakat, selain lembaga pendidikan dan agama. Karena itu, menurutnya, setiap produk jurnalistik harus memperhatikan pilihan kata dan dampaknya terhadap publik.

“Tidak semua hal harus ditulis. Pilihan kata sangat penting. Bahasa media tidak boleh melakukan jebakan sosial. Diksi atau kata yang dipilih media harus netral,” ujar Elias.

Ia menegaskan bahwa tidak hanya bahasa tulisan yang perlu diperhatikan, tetapi juga penggunaan foto dalam pemberitaan. Menurutnya, foto merupakan bentuk bahasa lain yang memiliki aturan dan etika tersendiri, terutama dalam peliputan yang melibatkan anak-anak. “Foto adalah ungkapan dalam bahasa yang lain. Karena itu, penggunaannya juga harus memperhatikan aspek human interest dan perlindungan hak individu,” katanya.

Elias juga menekankan pentingnya penghormatan terhadap hak atas tubuh dan identitas seseorang. “Yang punya hak atas tubuh saya adalah diri saya sendiri,” tegasnya.

Dia mengapresiasi PLAN Indonesia yang telah menginisiasi kegiatan dengan melibatkan anak-anak melalui Youth Advisory Panel (YAP), sehingga mereka dapat belajar menggunakan kalimat dan bahasa yang baik sejak dini.

Ia juga mendorong Aparat Penegak Hukum (APH) untuk terus menjaga moral bangsa dengan menerapkan bahasa yang berbasis perlindungan dalam berbagai bentuk komunikasi publik. Kepada insan pers, Elias berpesan agar terus meningkatkan kualitas literasi. “Kalau ingin menulis, harus banyak membaca,” ujarnya.

Senada dengan Elias, Direktur Nimo Tafa Institute, Emanuel Prason Krova juga memberikan apresiasi kepada PLAN Indonesia dan Forum Jurnalis Lembata atas inisiatif menghadirkan panduan peliputan ramah anak. Menurutnya, perhatian terhadap cara berbahasa menjadi sangat penting karena berkaitan dengan upaya menjaga generasi penerus bangsa.

“Kenapa anak harus aman dalam berbahasa? Karena bangsa ini tidak mau kehilangan generasi,” kata Eman.

Ia menjelaskan bahwa dalam jurnalistik, pemilihan diksi, makna, dan konteks sangat menentukan bagaimana sebuah fakta dipahami publik. Meski fakta yang disajikan sama, cara penyampaiannya dapat menghasilkan dampak yang berbeda. “Perintah jurnalistik itu tegas, lugas, dan jelas. Fakta yang sama tetapi cara penyajian berbeda,” ujarnya.

Eman menilai Forum Jurnalis Lembata telah mengambil langkah berani dengan menyusun dan meluncurkan buku panduan tersebut. Namun, ia mengingatkan bahwa penerbitan buku saja belum cukup.

“Sudah banyak kalangan yang berteriak tentang pemberitaan ramah anak dan berbasis perlindungan anak, tetapi belum banyak daerah yang berani mengambil langkah nyata. Saya kaget FJL berani mengambil langkah ini. Tetapi tidak cukup hanya dengan buku panduan, harus menjadi langkah konkret dalam praktik jurnalistik sehari-hari,” tegasnya.

Sebagai puncak kegiatan, dilakukan launching Buku Panduan Peliputan Ramah Anak melalui pemindaian (scan) barcode secara simbolis. Hadirnya buku dalam bentuk e-book ini merupakan yang pertama di Lembata. PLAN dan FJL juga sedang memproses pencetakan buku panduan tersebut untuk disebar ke berbagai kalangan di Lembata.

Prosesi tersebut dilakukan bersama oleh perwakilan Youth Advisory Panel (YAP), Pondok Perubahan, Forum PUSPA, Presiden Direktur Nimo Tafa Institute, Sekretaris Aldiras, serta Forum Jurnalis Lembata.

Peluncuran buku tersebut diharapkan menjadi tonggak penguatan praktik jurnalistik yang lebih sensitif terhadap hak-hak anak, sekaligus mendorong penggunaan bahasa yang aman, netral, dan berbasis perlindungan dalam ruang publik. (rilis PLAN-FJL/AN-01)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *