Aksinews.id/Lewoleba – Festival Lamaholot 2026 yang digelar di lokasi eks Harnus, Wulen Luo, Lewoleba, Lembata tidak cuma menjajakan aneka warisan budaya masyarakat Lamaholot. Lapak Mariosca milik Sakeng Corvando Saperapel pun menjajakan dua buah novel etnografis Lamaholot terbaru, ‘Mahar Gading’ karya Pion Ratuloli dan ‘Lamauri’ karya Fince Bataona.
Kedua novel karya anak tanah Lamaholot itu memang padat dengan kisah kehidupan masyarakat Lamaholot. Pion Ratuloli melalui novelnya menyajikan betapa ‘mahalnya’ perempuan Lamaholot yang harus dihargai dengan belis (mahar) gading gajah.

“Tak hanya kisah cinta dan perjuangan berdarah-darah yang mengaduk emosi, Mahar Gading adalah realitas. Ada sejarah. Ada pengetahuan tentang budaya dan hukum adat. Ada pesan-pesan iman. Anak muda Lamaholot wajib baca,” ungkap Fince Bataona, penulis novel Lamafa.
Sebagai endorsement yang tercetak di sampul belakang novel Mahar Gading, Alexander Take Ofong, anggota DPRD NTT, juga mengungkapkan, “Nilai historis-kultural-religiusitas, memberi bobot perjuangan cinta dalam tuntutan adat dikisahkan dengan bahasa yang puitis, novel Mahar Gading memberi pesan moral yang dalam. Alur ceritanya menarik, penuh ketegangan dengan ending yang tak terduga”.
Prolog yang ditulis guru besar Undana Kupang, Prof. Simon Sabon Ola berjudul ‘Mahar di Tapal Adat: Garding, Martabat Perempuan, Harga Diri Laki-laki’ cukup membantu pembaca memahami isi novel. “Novel ini sarat pesan moral dengan gaya linear sekaligus paradoks. Kepadatan metafora alam Adonara dan personifikasi memperkuat imajinasi pembaca bahwa adat mempunyai jalan sendiri dan cinta mempunyai relung sendiri. Jika adat dan cinta tidak saling ‘membunuh’, maka disanalah kebesaran hati, budi dan nurani orang Adonara dimuliakan. Hanya dengan membaca novel ini, Anda dapat memetik pesan moral dan secuil ‘dokumen’ budaya tradisi Lamaholot di Pulau Adonara,” ungkap Profesor Simon, peneliti bahasa dan budaya Lamaholot dalam cacatan pengantarnya.
Jika Mahar Gading menampilkan kisah cerita dari pulau romantis Adonara, novel Lamuri berkisah tentang peran perempuan kampung nelayan tradisional Lamalera, Pulau Lembata. Fince Bataona mengibaratkan peran perempuan bagai Lamauri (jurumudi peledang/perahu khas nelayan Lamalera) yang mengendalikan peledang menantang badai dan atau amukan mamalia laut, Paus, yang tertikam peledang di lautan nan luas.
“Jangan kepada laki-laki kau tanyakan perihal perempuan; datanglah kepada perempuan dan ia akan menjelaskannya dengan benar, jujur, sopan dan penuh takzim,” ungkap Pater Yoseph Bruno Dasion, SVD pada pesan pembuka prolognya pada novel Lamauri.
Pastor kelahiran Lamalera yang kini tinggal dan berpastoral di Nagasaki, Jepang ini menegaskan,”Menulis tentang Lamauri, bagi saya, adalah ekspresi hasrat penulisnya untuk menyempurnakan kehidupan sosial di Lamalera, yang berporos pada aktivitas kenelayanan.Lamafa dan Lamauri semisal pinang dibelah dua, semisal belahan jiwa yang tidak boleh dipisahkan. Lamafa menemukan artinya dalam kehadiran seorang Lamauri, demikian pula seorang Lamauri menemukan makna adanya oleh seorang Lamafa. Apalah artinya seorang Lamafa tanpa Lamauri; apalah artinya seorang Lamauri kalau menolak kehadiran Lamafa?”
“Harus diakui, melalui Lamafa, novelnya yang pertama, dan sekarang Lamauri, Fince berusaha untuk mempengaruhi publik (pembaca) untuk melihat Lamalera. Meskipun berdiri secara sendiri-sendiri namun semangat yang diusung Fince dalam dua novenya tetap sama: mengingatkan kita semua bahwa di tengah kemajuan dunia modern hari ini, seruan untuk kembali kepada nilai-nilai yang terkandung pada adat dan tradisi menjadi sebuah pilihan yang realistis,” uang Kristo Korohama, seorang penikmat sastra dalam endorsnya pada novel Lamauri.
Kristo, anak Lamalera yang kini tinggal di Larantuka, Flores Timur, menambahkan, ”Dalam kepungan kemajuan jaman, perubahan budaya adalah sebuah keniscayaan, namun nilai-nilai budaya dan tradisi harus tetap hidup. Fince melalui dua novelnya mengingatkan untuk senantiasa menjaga nilai adat dan tradisi Lamalera”.
Sejak dulu, lanjut Kristo Korohama, “Laut Lamalera tak pernah bisu, ia selalu bertutur, memberi pesan. Dan, sebagai Lamauri, Fince menangkap pesan itu”.
Kehadiran dua novel etnografis di arena Festival Lamaholot seolah melengkapi Festival yang masuk dalam agenda Karisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata tersebut.
Selain novel Mahar Gading, Pion Ratulolly juga menyuguhkan kumpulan cerpen berjudul Wasiat Kemuhar yang dijajakan di Lapak Mariosca.
Mau dapatkan ketiga buku itu? Mampir saja ke Lapak Mariosca. Harganya? Tak ada merobek dompet anda. Kumpulan cerpen Wasiat Kemuhar seharga Rp.35.000, Lamauri Rp.100K dan Mahar Gading Rp.150K.
Selain itu, Mariosca pun menawarkan pernak-pernik budaya, seperti kanobo, anting, kalung, gelang dan lain-lain yang terbuat dari anyaman daun lontar dipadukan dengan bulu ayam atau kerang laut. (AN-01)

















