Kritis & Terpercaya
Beli Tema IniIndeks
banner 728x250

Buka Festival Kontaong 2026, Wabup Lembata: Jangan Sampai Anak Cucu Hanya Kenal Budaya dari Cerita dan Buku Sejarah

banner 120x600
banner 468x60

Aksinews.id/Hoelea — Tradisi silat kampung masyarakat adat Edang kembali dihidupkan melalui Festival Kontaong 2026 yang mengusung tema “Melestarikan Tradisi Silat Kampung Masyarakat Adat Edang”. Kegiatan yang berlangsung di Desa Hoelea 1, Kecamatan Omesuri, Jumat (14/8/2026), menjadi momentum untuk merawat ingatan kolektif sekaligus meneguhkan kembali identitas budaya masyarakat Edang di tengah perubahan zaman.

Festival yang diselenggarakan Yayasan Kaya Tene bekerja sama dengan Pemerintah Desa Hoelea 1 dan Desa Hoelea 2, dengan dukungan pendanaan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah NTT melalui Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Tahun 2026, secara resmi dibuka oleh Wakil Bupati Lembata, H. Muhamad Nasir.

banner 325x300

Turut hadir perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah NTT, pimpinan perangkat daerah, Ketua Yayasan Kaya Tene, perwakilan Camat Omesuri, unsur Forkopimcam Omesuri, unsur Pemerintah Desa Hoelea 1 dan Hoelea 2, serta tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat dan masyarakat setempat.

Ketua Yayasan Kaya Tene, Zainuddin Umar, mengatakan Festival Kontaong lahir dari kolaborasi antara Yayasan Kaya Tene dan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah NTT melalui Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Tahun 2026.

Menurut Zainuddin, Kontaong merupakan salah satu dari sekian banyak tradisi yang diwariskan leluhur masyarakat Edang. Namun, keberadaan tradisi lokal saat ini menghadapi tantangan karena mulai kurang diminati generasi muda.

Generasi muda, kata dia, cenderung lebih mudah mengikuti budaya populer dibandingkan mempelajari dan mempraktikkan tradisi yang diwariskan oleh orang tua dan leluhur. Karena itu, Festival Kontaong diharapkan menjadi ruang refleksi sekaligus upaya nyata untuk mendekatkan kembali generasi muda dengan akar budayanya.

Hal senada disampaikan Kepala Desa Hoelea 1, Gregorius Gawi. Menurutnya, Festival Kontaong merupakan momentum untuk menyalakan kembali semangat leluhur yang mulai meredup. Ia mengatakan tradisi lokal, khususnya Kontaong, membutuhkan ruang agar dapat kembali hadir dalam kehidupan masyarakat, terutama di tengah generasi muda.

“Spirit leluhur yang dahulu berkobar seperti api yang menyala mulai redup dan hampir padam. Kita doakan Kontaong ini jangan sampai padam,” ujarnya.

Ia berharap Festival Kontaong tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi titik awal untuk memperkuat identitas budaya masyarakat Edang dan menumbuhkan kembali kebanggaan generasi muda terhadap adat istiadat yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Harapan tersebut sejalan dengan dukungan pemerintah melalui Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan. Mewakili Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah NTT, Abdul Gafur Sarabiti, menjelaskan bahwa Balai Pelestarian Kebudayaan merupakan unit pelaksana teknis Kementerian Kebudayaan di daerah yang memiliki mandat untuk mendukung pelestarian dan pemajuan kebudayaan.

Menurut Abdul Gafur, pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan menyediakan berbagai program yang memberikan ruang kepada masyarakat dan komunitas budaya untuk mengusulkan kegiatan kebudayaan yang dinilai penting bagi keberlangsungan tradisi. Salah satunya melalui Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan yang mendukung masyarakat dalam menjaga berbagai praktik dan tradisi lokal agar tetap hidup serta dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dengan demikian, Festival Kontaong tidak hanya menjadi inisiatif masyarakat, tetapi juga menunjukkan adanya kolaborasi antara komunitas, pemerintah desa, pemerintah daerah, dan pemerintah pusat dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya.

Sementara itu, Wakil Bupati Lembata H. Muhamad Nasir dalam sambutannya  mengajak seluruh masyarakat untuk melihat Festival Kontaong dari perspektif yang lebih luas.

Menurutnya, Kontaong tidak cukup dimaknai sebagai sebuah pertunjukan atau perayaan budaya. Lebih dari itu, keberadaan tradisi tersebut harus ditempatkan sebagai bagian dari proses membangun karakter generasi muda dan menjaga ingatan kolektif masyarakat.

“Sesungguhnya momentum sore hari ini bukan hanya untuk menyaksikan festival. Lebih dari itu, kita sedang membangun ingatan kolektif bahwa budaya merupakan bagian daripada pendidikan karakter,” tegasnya.

Wabup Nasir menjelaskan bahwa tradisi Kontaong memiliki nilai historis dan sosial yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Karena itu, Kontaong tidak semata-mata dipahami sebagai keterampilan bela diri, tetapi juga sebagai ruang untuk membangun keberanian, kekuatan, kedisiplinan, kebersamaan, dan tanggung jawab. Namun, kekuatan dan keberanian tersebut, menurutnya, harus ditempatkan dalam kerangka nilai dan tanggung jawab sosial.

“Ketika kita diberikan kekuatan, kekuatan itu tidak boleh digunakan untuk menindas. Ketika kita diberikan keberanian, keberanian itu bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk melindungi yang lemah,” ujarnya.

Dengan demikian, seorang pesilat sejati, kata Wabup Nasir, tidak hanya dinilai dari kemampuan fisiknya. Lebih penting dari itu adalah bagaimana ia mampu menunjukkan kerendahan hati, mengayomi sesama, serta menggunakan kekuatannya secara bertanggung jawab.

Pesan tentang pendidikan karakter tersebut kemudian dikaitkan Wabup dengan tantangan masyarakat di tengah perkembangan zaman. Ia mengingatkan bahwa modernisasi dan kemajuan teknologi tidak boleh membuat masyarakat kehilangan akar budayanya. Kemajuan material harus berjalan seimbang dengan kekuatan karakter dan identitas budaya.

“Modernisasi tanpa akar budaya yang kuat, kita akan kehilangan. Kita boleh menang dari sisi material, tetapi dangkal dari sisi akar budaya itu sendiri. Ibarat sebuah pohon yang tumbuh kuat, tanpa akar yang kuat pohon tersebut akan rapuh,” katanya.

Menurutnya, pelestarian budaya bukan sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari pembangunan masyarakat yang memiliki ketahanan sosial dan budaya. Di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial, masyarakat juga dituntut memiliki kecerdasan moral dan sosial. Teknologi, harus tetap dibingkai oleh etika, karakter, dan nilai-nilai budaya.

“Yang paling penting adalah bagaimana kemajuan teknologi itu tidak terlepas daripada kecerdasan moral. Kecerdasan moral memiliki tautan dengan budaya, begitu juga kecerdasan sosial,” jelasnya.

Karena itu, Wakil Buapti  mengajak generasi muda untuk tidak melihat Kontaong semata-mata sebagai peninggalan masa lalu. Tradisi tersebut harus dipandang sebagai identitas yang dapat menjadi sumber pembentukan karakter sekaligus kebanggaan masyarakat Edang. Kontaong, dapat menjadi ruang untuk menanamkan disiplin, sportivitas, keberanian, kerendahan hati, dan persaudaraan.

Wabup Nasir juga memberikan pesan khusus kepada generasi muda agar menjadi bagian penting dalam keberlanjutan tradisi Kontaong. Ia tidak ingin generasi mendatang hanya mengetahui tradisi tersebut sebagai bagian dari sejarah, tanpa pernah melihat atau mempraktikkannya secara langsung.

“Jangan sampai suatu hari nanti anak cucu kita hanya mengenal Kontaong melalui cerita, foto, atau buku sejarah. Biarlah mereka melihat, mempelajari, dan mempraktikkannya secara langsung sebagai bagian daripada kehidupan budaya masyarakat,” ungkapnya.

Pesan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa keberhasilan pelestarian budaya tidak hanya diukur dari seberapa sering sebuah festival diselenggarakan, tetapi dari sejauh mana tradisi tersebut kembali hidup dalam keseharian masyarakat dan memiliki pewaris di kalangan generasi muda.

Wabup Nasir pun menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Kaya Tene, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah NTT, Pemerintah Desa Hoelea 1 dan Hoelea 2, tokoh adat, tokoh masyarakat, generasi muda, serta seluruh pihak yang telah berkolaborasi menyukseskan Festival Kontaong 2026.

Pembukaan festival kemudian ditandai dengan pemukulan gong oleh Wakil Bupati Lembata H. Muhamad Nasir, didampingi Ketua Yayasan Kaya Tene, perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah NTT, serta Kepala Desa Hoelea 1 dan Hoelea 2.

Festival Kontaong 2026 pun diharapkan menjadi jembatan antara warisan leluhur dan generasi masa kini. Sebab, ketika sebuah tradisi kehilangan pewaris, ia perlahan berubah menjadi cerita. Tetapi ketika generasi muda kembali mempelajarinya, mempraktikkannya, dan membanggakannya, budaya tidak sekadar dikenang tapi budaya kembali hidup. (ProkompimPemkabLembata)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *