banner 728x250

Seruan Profetik untuk Pembebasan

banner 120x600
banner 468x60

Oleh P. Mike Keraf, CSsR

“Ecce Homo: Lihatlah Wajah yang Tersalib – Consummatum Est”

banner 325x300

Saudara-saudari terkasih,

Hari ini kita tidak hanya sekadar berdiri di kaki Salib.

Kita berdiri di hadapan sebuah Wajah.

Ketika Yesus Kristus dihadapkan kepada orang banyak,

Pontius Pilatus berkata: “Ecce Homo!” — Lihatlah manusia itu!

Bukan sekadar menunjuk seorang yang terluka. Tetapi menunjuk seluruh kemanusiaan yang dihancurkan.

Hari ini, Sabda itu menggema kembali di tanah kita: Ecce Homo! Lihatlah wajah manusia yang menderita ini!

I. WAJAH YANG MENUNTUT KITA

Saudara-saudari,

Filsuf Emmanuel Levinas berkata: “Wajah yang lain memanggilku, melarang aku untuk membunuh, dan menuntut tanggung jawab.”

Wajah bukan sekadar rupa. Wajah adalah seruan.

Dan di tanah kita, wajah-wajah itu nyata:

👉Wajah ibu yang menunggu anaknya pulang dari rantau—tetapi tidak pernah kembali

👉Wajah anak yang lapar namun tetap tersenyum walau getir

👉Wajah nelayan yang pulang dengan tangan kosong dan garam mengering

👉Wajah korban perdagangan manusia yang kehilangan nama, organ tubuh, dan martabat

👉Wajah hutan yang dibabat liar

👉Wajah tanah yang dilobangi dan dikeruk tanpa ampun

Ecce Homo! Lihatlah dia! Lihatlah mereka! Jangan lewat begitu saja. Karena setiap wajah adalah altar Allah.

II. SALIB: ALLAH DALAM WAJAH YANG TERLUKA

Saudara-saudari, Salib bukan teori, atau ilustrasi para penulis bijak. Salib adalah wajah yang dihancurkan.

Wajah itu berseri dalam Injil Yohanes : “Aku haus.”

Haus akan apa?

Haus akan wajah manusia yang dipulihkan.

Di Salib, Allah tidak tampil sebagai penguasa yang jauh. Allah hadir sebagai Wajah yang terluka.

Dan seperti dikatakan Karl Rahner: “Allah ditemukan di kedalaman pengalaman manusia.”

Maka hari ini kita berkata:

👉 Allah ada di wajah yang disiksa

👉 Allah ada di wajah yang dilupakan

👉 Allah ada di wajah yang diinjak martabatnya

III. DOSA TERBESAR: MENUTUP MATA TERHADAP WAJAH

Saudara-saudari,

Masalah terbesar kita bukan hanya kejahatan. Tetapi ketidakpedulian.

Kita melihat—tetapi tidak sungguh melihat.

Kita tahu—tetapi tidak mau tahu.

Kita lewat di depan wajah-wajah yang terluka, seolah-olah itu bukan urusan kita. Padahal menurut Emmanuel Levinas: “Aku bertanggung jawab atas yang lain, bahkan sebelum aku memilih.” Artinya: Begitu kita melihat wajah yang menderita, kita tidak bisa lagi netral.

Netralitas adalah bentuk lain dari penyaliban.

IV. “CONSUMMATUM EST”: KASIH SAMPAI WAJAH TERAKHIR

Ketika Yesus Kristus berseru: “Sudah selesai.”

Apa yang selesai?

Kasih telah dijalani sampai batas paling ekstrem: sampai wajah-Nya hancur demi menyelamatkan wajah kita.

Seperti dihayati Fransiskus dari Asisi: “Kasih tidak dikasihi.”

Namun di Salib, kasih tetap memilih untuk tinggal.

Dan seperti ditegaskan Bernard Häring: “Kebebasan sejati adalah keberanian untuk mengasihi dalam risiko.”

Salib adalah risiko itu. Kasih yang tidak mundur.

V. SERUAN PROFETIK: LIHAT DAN BERTINDAK

Saudara-saudari,

Hari ini Salib berbicara: Jangan hanya melihat Salib di altar — lihatlah Salib dalam wajah manusia.

Ecce Homo di tanah kita:

👉Lihatlah petani yang gagal panen

👉Lihatlah perempuan dan anak yang menangis dalam diam

👉Lihatlah anak-anak yang kehilangan masa depan

👉Lihatlah korban trafficking yang kehilangan wajahnya

Ecce Homo!

Dan pertanyaannya: Apa yang akan kita lakukan?

VI. GEREJA WAJAH: GEREJA DARI BAWAH

Kita dipanggil menjadi Gereja yang tahu melihat wajah.

Bukan Gereja yang sibuk dengan ritual saja, tetapi Gereja yang:

👉berhenti di jalan untuk menolong

👉menyentuh luka tanpa takut

👉memanggil nama mereka yang dilupakan

Seperti diingatkan Alfonsus de Liguori: “Allah lebih dekat kepada mereka yang menderita.”

Kalau kita mau menemukan Allah, kita harus menemukan dan meraba luka pada wajah mereka.

VII. SIMBOL TANAH KITA: WAJAH DAN TANAH

Saudara-saudari,

Wajah manusia seperti tanah Sumba: Kadang retak. Kadang kering. Kadang tampak mati.

Tetapi di dalamnya ada kehidupan yang menunggu hujan.

Dan Salib adalah hujan itu.

Salib menyentuh tanah kering hidup kita, dan berkata: Engkau tidak dilupakan. Engkau tidak sia-sia. Engkau dikasihi dengan kasih tanpa batas.

VIII. CREDO DI HADAPAN WAJAH

Apa artinya kita mengucapkan Credo hari ini?

Artinya:

👉 Kita percaya bahwa setiap wajah itu kudus

👉 Kita percaya bahwa Allah hadir dalam yang paling kecil

👉 Kita percaya bahwa kasih lebih kuat daripada kematian

Dan itu bukan sekadar kata.

Itu adalah komitmen hidup.

PENUTUP: LIHATLAH WAJAH ITU

Saudara-saudari,

Hari ini, Salib tidak meminta kita banyak hal.

Hanya satu: Lihatlah!

Lihatlah dengan hati!

Lihatlah sampai kita tidak bisa lagi diam!

Karena di setiap wajah yang terluka, kita mendengar kembali suara itu: Ecce Homo!

Dan dari Salib, Yesus Kristus berkata: “Consummatum est!” Kasih telah diberikan sampai tuntas.

Sekarang giliran kita: Apakah kita berani melihat? Apakah kita berani menjawab wajah itu?

Amin.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *