Aksinews.id/Larantuka – Mantan mahasiswa berbagai kampus di Malang yang kini bermukim di Kabupaten Flores Timur, Sabtu (8/10/2022), menggelar aksi 1.000 lilin untuk menyatakan duka cita atas tragedi di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur.
Aksi 1.000 lilin itu dilaksanakan di lokasi Patung Pieta, persis di seberang jalan depan Kapela Tuan Anna, Loyahong, Larantuka. Hampir 100 Aremania Flores Timur yang berada di Kota Larantuka dan sekitarnya yang terlibat. Mereka memanjatkan doa secara Katolik, memohon keselamatan jiwa-jiwa para korban tragedi Kanjuruhan menyusul kekalahan Arema FC atas tamunya, Persebaya Surabaya.

“Semua yang penarh kuliah di Malang, otomatis akan tertanam kesukaan pada Aremania. Merasa satu jiwa. Dan, tertanam slogan Arema, bahwa Arema tidak kemana mana tapi ada dimana-mana, termasuk kami di Flores Timur,” ungkap Bambang Carvalho, alumnus Fakultas Pertanian Universitas Tribuana Malang tahun 1993, kepada aksinews.id, Senin (10/10/2022).
Dia menjelaskan bahwa ide menggelar aksi 1.000 lilin sesungguhnya muncul dari anak-anak muda Aremania Flores Timur yang dikoordinir Gusti Fernandez Numba, jebolan Malang tahun 2000/2001. “Kami yang senior tentu sangat mendukung langkah adik-adik Aremania Flores Timur ini,” ujarnya.
Personil grup music Flamenco Larantuka ini mengaku bangga atas kreasi para yuniornya yang sama-sama pernah mengenyam pendidikan di Malang. “Yang hadir rata-rata berasal dari anggkatan 1990 sampai angkatan 2014. Sehingga kami sudah sepakat untuk kembali mengaktifkan Aremania Flores Timur,” jelas dia.

Hadir yang paling senior angkatan 1990 seperti Ostin Skeira lulusan Fakultas Ekonomi Unika Widya Karya Malang, dan Tote Fernandez jebolan Fakultas Hukum Universitas Merdeka (Unmer) Malang. Angkatan 1991, ada Vianey Watu yang menyelesaikan studi di Universitas Katolik Widya Karya, Malang. Angkatan 1997, ada Kunnez Hurint, yang menyelesaikan studi di Fakultas Teknik Unmer Malang.
“Hampir semua angkatan ada perwakilannya. Kami memang masih belum saling mengenal. Tapi, dengan momentum ini, kami bisa saling kenal dan membangun kembali Aremania Flores Timur yang mati suri,” jelas Bambang Carvalho.
Dikatakan, Aremania Flores Timur sempat dibentuk tahun 2010 silam. Ketika itu, Ina Lamabelawa dipercayakan sebagai ketuanya. Namun beberapa tahun belakangan tidak ada aktivitas, sehingga roda organisasi sama sekali tidak bergerak.
Kehadiran alumnus Malang dari berbagai kampus, baik IKIP Kanjuruhan, IKIP Boedi Oetomo, Universitas Merdeka (Unmer), Universitas Tribuana Malang dan kampus lainnya, termasuk dari akademi, menunjukkan adanya kesamaan visi untuk mengaktifkan kembali Aremania Flores Timur.
Bambang Carvalho yang dinobatkan juga sebagai pemandu acara 1.000 lilin menuturkan, Aremania Flotim juga berdoa khusus bagi Philipus Kumanireng dan kekasihnya, yang ikut meninggal dunia dalam Tragedi Kanjuruhan. “Almarhum Philipus Kumanireng selama ini memang menetap di Malang, mengikuti ayahnya. Kami secara khusus berdoa untuk Philipus dan pacarnya,” ucapnya.
Di akhir perbincangan dengan aksinews.id, Bambang juga menyampaikan terima kasih kepada Polres Flores Timur yang telah mengijinkan Aremania Flores Timur menggelar aksi 1.000 lilin bagi korban Tragedi Kanjuruhan. Secara khusus, ia menyampaikan terima kasih kepada Kasat Intel dan Kasat Bimas Polres Flores Timur bersama anggota Polres Flotim yang langsung terlibat dalam aksi tersebut.
Investigasi TGIPF
Sementara itu, Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) tragedi Kanjuruhan yang bergerak sejak Selasa (4/10/2022) lalu, menemukan sejumlah fakta yang memperlihatkan bahwa Stadion Kanjuruhan Kepanjen, Kabupaten Malang, tidak layak dijadikan tempat pertandingan beresiko tinggi.
Berikut daftar temuan sementara TGIPF tragedi Kanjuruhan hingga Minggu (9/10/2022), sebagaimana diberitakan Kompas.com :
1. Stadion Kanjuruhan tak layak untuk menggelar pertandingan berisiko tinggi
Secara keseluruhan, Stadion Kanjuruhan dinilai tidak layak digunakan sebagai venue pertandingan berisiko tinggi.
Hasil tersebut disampaikan oleh anggota TGIPF, Nugroho Setiawan, yang juga merupakan AFC Safety Security Officer dan PFA Safeguardian Committee Chairman.
“Kesimpulannya sementara bahwa stadion ini tidak layak untuk menggelar pertandingan high risk match,” kata Nugroho Setiawan dalam video yang diunggah di saluran YouTube Kemenko Polhukam, Minggu (9/10/2022).
“Mungkin kalau itu medium atau low risk masih bisa,” sambung Nugroho Setiawan.
2. Anak tangga Stadion Kanjuruhan tidak sesuai standar
Ketidaklayakan Stadion Kanjuruhan untuk menggelar pertandingan berisiko tinggi tak lepas dari kekurangan di beberapa detail venue, salah satunya anak tangga.
Nugroho Setiawan menyebut anak tangga di Stadion Kanjuruhan tidak sesuai dengan standar karena ukuran tinggi dan lebarnya sama.
“Anak tangga ini kalau secara normatif dalam safety regulate, ketinggian 18 senti (sentimeter), lebar tapak 30 senti. Ini tadi antara lebar tapak dan ketinggian sama. Rata-rata mendekati 30,” ucap Nugroho Setiawan.
“Jadi intinya gini. Kalau dengan ketinggian normal tadi tinggi 18 dan lebar tapak 30, ini kita berlari turun, berlari naik, itu tidak ada kemungkinan jatuh,” katanya menambahkan.
Selain itu, Nugroho Setiawan juga menyoroti pegangan tangga atau railing besi yang tidak terawat dan akhirnya rusak saat kejadian sehingga turut melukai para penonton.
3. Pintu stadion tak memadai
Berdasarkan rekaman kamera pemantau atau CCTV di Stadion Kanjuruhan, TGIPF melihat kepanikan massa yang berebut mencari pintu untuk keluar menghindari gas air mata. Dalam hal ini, TGIPF melihat rekaman yang menangkap momen kepanikan di pintu 13 stadion.
Nugroho Setiawan mengatakan bahwa pintu 13 sejatinya berfungsi untuk akses masuk penonton, bukan keluar, dan hanya terbuka sedikit ketika insiden terjadi.
Oleh karena itu, terjadilah desak-desakan yang membuat sejumlah penonton terhimpit hingga kehabisan napas. “Jadi sementara yang saya lihat adalah pintu masuk berfungsi sebagai pintu keluar, tapi itu tidak memadai. Kemudian tidak ada pintu darurat,” kata Nugroho Setiawan.
“Jadi mungkin ke depan perbaikannya adalah mengubah struktur pintu itu, kemudian juga mempertimbangkan aspek akses seperti anak tangga,” tutur Nugroho Setiawan menegaskan.
4. Efek Gas Air Mata
Penggunaan gas air mata menjadi salah satu persoalan utama dalam tragedi Kanjuruhan. Setelah bertemu dengan sejumlah korban yang selamat, TGIPF melihat secara langsung efek dari penggunaan gas air mata tersebut.
Salah satu anggota TGIPF, Akmal Marhali, mengatakan bahwa banyak korban selamat mengalami pendarahan mata, sesak napas, dan batuk.
“Rafi Atta Dzia’ul Hamdi (14) mengalami pendarahan pada mata. Sedangkan kakaknya, Yuspita Nuraini (25) masih batuk dan sesak napas,” kata Akmal Marhali, dikutip dari Tribun News.
“Ahmad Afiq Aqli asal Jember masih dirawat dengan mata merah, serta kaki dan tangan patah. Semua gara-gara gas air mata,” ujar Akmal.
Dikutip dari Tribun News, korban selamat Tragedi Kanjuruhan yang sampai saat ini masih menjalani rawat inap mencapai 36 orang.
Adapun korban jiwa Tragedi Kanjuruhan mencapai 131 orang berdasarkan data terakhir Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, Selasa (4/10/2022).
TGIPF Tragedi Kanjuruhan pimpinan Menko Polhukam Mahfud MD ditargetkan sudah menyelesaikan hasil investigasi maksimal satu bulan.
Hasil investigasi dan rekomendasi TGIPF Tragedi Kanjuruhan itu nantinya akan diserahkan ke Presiden Joko Widodo.
Setelah itu, pemerintah Indonesia akan merumuskan dan memperbaiki tata kelola sepak bola Indonesia bersama FIFA dan AFC.(*/AN-01)
























